Tampilkan postingan dengan label Kaimana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kaimana. Tampilkan semua postingan

Daun Tiga Jari Dari Papua

Daun tiga jari, Papua, memperbesar, penis
Daun tiga jari dari Papua


Mungkin beberapa orang belum familiar dengan daun tiga jari. Tapi yang sudah pernah ke Papua setidaknya pernah mendengar ini atau bahkan pernah mencobanya. Daun tiga jari adalah daun yang dipercaya bisa memperbesar ukuran penis.

Is that so? 

Ya. Setidaknya itulah beberapa testimoni dari teman-teman yang pernah mencobanya. 

Terus bagaimana bisa? Well...Daun ini unik karena dalam satu tangkai terdapat 3 daun, that's why mungkin dinamakan daun tiga jari. Pernah coba jelasin ini dengan menerjemahkan namanya menjadi "three-finger". See? Bahkan versi bahasa Inggris daun ini aja terdengar vulgar. Haha. Daun yang biasa disebut juga dengan "daun bungkus" ini penggunaannya terbilang cukup mudah. Setidaknya ada 2 versi dari teman-teman yang pernah mencobanya. So here we go.

Version 1

  • Oleskan minyak kelapa ke penis.

  • Daun tiga jari cukup ditempelkan di situ dan diamkan selama ±2 menit. Atau sampai terasa hangat. Jangan terlalu lama ya karena bisa terasa panas membakar. Ini tergantung daunnya. Ada yang cepat bereaksi ada juga yang lumayan lambat. Tapi tidak sampai sepuluh menit untuk bereaksi.

  • Setelah itu, angkat. Daunnya ya, bukan penisnya. 
  • Olesi minyak kelapa lagi dan pijat-pijat. 

Kata teman, terlihat lebih besar. I'm not sure itu bertambah besar sekaligus panjang atau hanya besar karena pembengkakan. 

Version 2

  • Daun tiga jari di-blender untuk diambil sarinya. 
  • Oleskan yang sudah di-blender ke situ. Tutup dengan daun tiga jari (daun utuh).
  • Diamkan sebentar.
  • Setelah itu olesi minyak.

Ini mungkin seperti double shot kalau kita minum kopi. Dan sama, testimoninya stated that jadi lebih besar ukurannya. Oh iya, selama memakai daun ini tidak boleh pakai celana dalam, maybe to give it "some space" to grow.

Mungkin penggunaan daun tiga jari ini mirip seperti tissue magic (meskipun manfaatnya berbeda), tinggal oles-oles, diamkan dan tadaaaa! Ditambah minyak kelapa yang dibuat sendiri seakan memberi efek placebo bahwa ini akan bekerja maksimal. Namun, disarankan untuk think twice sebelum mencoba karena secara medis memang belum terbukti. I mean, penis jadi besar mungkin pembengkakan karena panas daun tiga jari tadi. Dan mungkin saja efek besar dan panjang itu hanya sementara. Dan bisa saja kalau tidak tahan panas, dan karena bagian penis itu sensitif, nanti jadinya terbakar atau luka. Kalau luka, ya kemungkinan besar bisa  infeksi. Tambah repot lagi. 

Jujur I never tried it karena ya I don't have any issue with size. I'm just fine. Tapi memang sih kalau habis memakai daun tiga jari, cara jalan teman-teman sedikit aneh. Seperti habis disunat. Jadi jalannya kayak sulit gitu. Sedikit ngangkang, seperti habis turun dari NM*X. Tidak wajar. Mungkin menahan rasa sakit ya. That's the price to pay, anyway. 

Jadi, apakah masih ingin mencoba? Atau ada yang sudah mencoba? Apa ada versi lain penggunaan daun tiga jari?




Share:

Hewan Laut Papua Di Kaimana

wobbegong, hiu karpet, kaimana
Wobbegong

Setelah hewan terrestrial dan jenis burung, sekarang giliran hewan laut menakjubkan yang kutemui selama di Kaimana, Papua Barat. Aku tidak menyertakan hiupaus dalam list karena sudah membahasnya di tulisan sebelumnya. I feel so privileged to see them in person. Anyway, here they are.

  • Ubur-ubur

Banyak sekali jenis ubur-ubur di lautan. I'm not sure which ones I had encountered tapi yang pasti ada yang ukurannya kecil sekali sampai ada yang lebih besar dari bola basket, yang berwarna merah tua. Hewan ini menyengat, jadi harus hati-hati dengan tentakelnya. Namun, tidak apa jika yang disentuh adalah bagian kepalanya. Kadang banyak ubur -ubur yang terdampar di pantai, dan ya seperti namanya, mereka seperti jelly. 

  • Penyu

Reptil air ini biasa terlihat di pagi hari. Keberadaannya bisa dilihat dari moncongnya yang keluar ke permukaan. Orang lokal menyebutnya dengan tataruga, mirip bahasa Portugis. Orang Ambon juga menyebut hewan ini dengan tataruga. Mungkin karena dulu Portugis sudah nongkrong jauh di kawasan ini. Penyu yang kulihat masih muda jadi tidak berharap untuk melihatnya bertelur, setidaknya sampai kita jadi bapak-bapak. 

  • Giant Manta / Ikan Pari Raksasa

Ikan pari manta adalah salah satu ikan terbesar di dunia. Hewan ini tidak menyengat seperti jenis pari lainnya yang lebih kecil. Kami pertama kali melihat ikan ini secara tidak sengaja saat melintasi Selat Iris. Dan bisa ditebak, hewan ini sangat besar. Bentuknya yang persegi seperti ketupat raksasa yang berenang di laut. Namun, sayangnya ia tidak sedang breaching (istilah ketika hewan laut melompat ke atas permukaan air), but its okay, we're more than happy just to see it in person.

    • Paus Bryde's

    Mamalia laut raksasa ini berwarna hitam dan berukuran paling tidak 10-12 meter. Seperti kapal selam! Sangat thrilling saat melihat hewan ini dari dekat. Paus Bryde's (bacanya "Brudes") bisa dijumpai sepanjang tahun di perairan Triton Bay, Kaimana, Papua Barat. Kita bisa melihat water sprout seperti pancuran raksasa menyembur dari hidung mereka. Dan percayalah, meskipun ukuran raksasa yang dimiliki tapi mereka adalah jenis paus "kecil".

      • Lumba-Lumba

      Sebelum ke Kaimana, aku ingin sekali ke Lampung untuk melihat lumba-lumba. Namun, ketika di Kaimana, keinginanku itu hilang. Di sini banyak sekali lumba-lumba, umumnya jenis Indo-Pacific Bottlenose Dolphins atau lumba-lumba hidung botol. Tidak hanya bisa melihat dari atas perahu, kita bahkan berenang di sekitar mereka ditemani hiupaus, giant trevally dan banyak makhluk laut lainnya. Kalau ingin melihat lumba-lumba, datang saja ke Triton Bay. Youll find out way more than what you expect!

        • Wobbegong / Hiu Karpet

        Jangan tanya bagaimana bisa aku melihat hiu ini secara langsung. Yang pasti makhluk ini sangat menakjubkan. Wobbey yang kulihat memiliki ukuran 1.5 – 2 meter dan berwarna cokelat totol-totol. Ada kumisnya di sekitar mulutnya dan itu mengingatkanku pada film Pirates of Carribean. Aku yakin selama kita masih bisa menemukan hiu apapun jenisnya, maka kualitas karang dan laut masih cukup terjaga. You have to see this fish like no matter what! Google aja "wobbegong shark" and you'll see.

        • Ular laut

        Beberapa kali kami melihat hewan ini. Dan selalu bikin panic ketika sedang berenang atau sekedar rebahan di laut. Hewan ini sangat sangat mematikan karena bisanya. Pernah saat santai di pantai suatu sore di bulan Juni (cuaca buruk pada pertengahan tahun), aku melihat ular ini terseret ombak. Spontan aku berusaha menangkapnya tapi tidak jadi saat melihat ekornya yang pipih. Ya, kita bisa membedakan ular darat dan ular laut dari bentuk ekornya. Ular laut memiliki ekor pipih seperti digeprek dan terlihat licin. Namun, yang perlu diingat adalah kita harus memperlakukan semua jenis ular sebagai berbisa, agar terus berhati-hati / waspada.


        Itu saja? Jelas tidak! Banyak sekali jenis hewan laut menakjubkan seperti marble ray yang seperti piringan hitam raksasa yang berjalan di bawah air di laguna Triton Bay, jenis-jenis ikan karang mulai bumphead parrotfish, Napoleon, lionfish yang mengingatkanku dengan defile parade fashion, moray eel (sumpah, kirain itu apa karena tubuhnyabesar dan panjang), lobster, pygmy whale yang ada sentuhan warna merah mudanya (masih diperdebatkan), dan masih banyak lagi. The island is an everlasting paradise, has way more things than expected to see and I hope it will always be.



        source of picture:
        https://en.wikipedia.org/wiki/Wobbegong
        Share:

        Hewan Khas Papua Di Kaimana

        kasuari, papua, kaimana
        Side by side dengan kasuari muda

        Selama di Kaimana, Papua Barat, banyak hal-hal baru yang aku temui. Mulai dari makanan, adat sampai dengan hewan-hewan yang selama ini hanya dilihat di TV atau buku. Di sini akan sedikit membahas hewan khas Papua yang pertama kali kulihat langsung selama di Kaimana, Papua Barat.

        Kuskus

        Hewan marsupial (berkantung)  ini adalah salah satu hewan yang paling sulit dilihat (selain Cenderawasih) selama di Papua Barat. Hewan ini nocturnal, akan muncul pada sore sampai malam hari. Aku akhirnya bisa melihat kuskus secara langsung setelah satu tahun setengah di Kaimana. Hewan ini hidup di atas pohon dan dengan santai berpindah dari dahan atau ranting satu ke yang lainnya. Ekor panjangnya berfungsi untuk mengikat dahan agar tidak jatuh. Ada beberapa jenis kuskus, tapi yang aku lihat berwarna cokelat ada corak cokelat gelap. Untuk mendapatkan foto makhluk imut ini juga tidak mudah karena harus mendapatkan angle yang bagus, dengan kamera dan lensa yang bagus. Of course tidak ada foto yang bagus apalagi kalau hanya kamera hape. Anyway, bahagia sekali rasanya ketika bisa melihatnya, karena selama ini hanya tahu di buku IPS atau Wikipedia.

        Kasuari

        Salah satu burung terbesar di dunia ini bisa ditemukan di Kaimana. Pertama kali lihat burung ini, aku heran "Ini burung apa kok kayak ayam tapi besar banget?". Aku sedikit was-was karena kakinya sangat besar, panjang dan kuat seperti kaki dinosaurus. Bisa dibayangkan kalau kaki itu nendang perut, hal buruk apa yang bisa terjadi. Oh iya, hewan ini gesit sekali ya kalau di alam liar, dan jangan macam-macam karena, ingat, kaki besar mereka kalau sampai "kick off" ke tubuh kita bisa-bisa berakhir dengan pengumuman di masjid.

        Aku berkesempatan melihat anak burung kasuari yang masih kecil (lebih besar dari ayam dewasa) dan kasuari remaja (setinggi orang dewasa). Untuk membedakan kasuari muda dan tua bisa dilihat dari bulunya. Kasuari muda berwarna kekuning-kuningan dengan garis-garis cokelat cerah, sedangkan kasuari tua berwarna gelap. Makanan kasuari adalah biji-bijian, meskipun, entahlah saat aku kasih roti mereka mau-mau saja. Oh, ya, hewan ini dilindungi ya, tapi I really have no idea dengan kasuari yang berkeliaran di kampung-kampung.

        Kakatua Raja

        Burung ini biasa dikenal dengan Palm Cockatoo atau Kakatua Raja. Ini adalah jenis kakatua yang jarang ditemui di alam liar. Seluruh bulu mereka berwarna hitam dengan wajah mereka yang berwarna merah muda. Aku secara tidak sengaja melihat burung ini bertengger di pohon besar saat sedang tiduran di area house reef. Selama di Kaimana aku emang sudah terbiasa dengan suara berisik kakatua putih yang cukup banyak, namun kakatua hitam jelas hal yang menarik.

        Hornbill

        Burung berparuh (sangat) besar ini selalu menghiasi hari-hariku selama di Papua. Orang lokal menyebutnya dengan “taun-taun”. Disebut taun-taun karena di paruhnya ada tanda yang menandakan umur. Semakin banyak tandanya maka semakin tua umur burung tersebut. Burung ini hidup di pohon-pohon besar dan tinggi, dengan membuat lubang di batang pohon. Yang menjadi ciri khas dari burung ini adalah saat mereka terbang maka terdengar suara “woop woop” dari kepakan sayapnya. Apalagi ketika mereka terbang berkelompok. Keren sekali!

        Kumang / Kelomang

        Mungkin ini tidak khas Papua karena bisa ditemui di tempat lain. Tidak tahu mana yang lebih tepat menyebut hewan ini. Ada yang bilang kelomang, umang-umang, kumang tapi yang pasti bahasa Inggrisnya adalah hermit crab.  Aku beberapa  kali menemukan kumang dengan ukuran besar. Karena badannya yang sangat besar maka cangkangnya pun juga besar dan pastinya berat. I have no idea bagaimana hewan itu bisa mendapatkan cangkang yang bisa memuat tubuhnya. Hewan ini lumayan lamban, jadi bisa dengan mudah ditangkap. Hati-hati dengan capitnya ya!

        Masih banyak lagi sebenarnya hewan darat yang aku lihat selama di Papua barat, seperti biawak, humming bird, berbagai jenis ular, rusa, dan lainnya. Namun satu yang belum terwujud dan aku terus berdoa semoga nanti bisa melihatnya, yakni: Bird of paradise atau Cenderawasih. Burung endemic Papua ini memang sangat sulit karena berada di daerah pegunungan atau di ketinggian dan masuk ke hutan, meskipun beberapa juga bisa ditemukan di daerah bukit di pinggir laut degan catatan tidak ada aktivitas manusia. Bisa dibayangkan betapa sulitnya, bukan? Ada tempat untuk  melakukan observasi atau birds watching yakni Desa Lobo, namun belum ada info yang jelas dan lengkap tentang kapan dan bagaimana kegiatan itu dilakukan. Semoga saja bisa melihat burung indah itu suatu saat nanti. It’s gonna be one of the greatest &%$#!

        Anyway, hewan endemik apa yang pernah kalian jumpai?

        Share:

        Cerita Dari Triton Bay


        Sebagian besar pasti masih belum tahu tentang Teluk Triton (Triton Bay). Sama, aku juga begitu. Jangankan Triton Bay, Kaimana saja aku baru tahu setelah confirmed aku berangkat. Dan betapa terkejutnya aku ketika harus naik pesawat 4 kali. This country is huge, man.

        Triton Bay adalah sebuah teluk yang terletak di tenggara Kaimana, berada di “leher burung” pulau Papua. Ini bagian dari wilayah konservasi di Kaimana, dan pastinya kaya akan sumberdaya laut. Di kawasan ini kita bisa menjumpai paus Bryde (hampir) sepanjang tahun, melakukan kegiatan menyelam, melihat lumba-lumba dan hewan besar lainnya. 

        triton bay, kaimana, papua barat
        Triton Bay / Teluk Triton, Kaimana, Papua Barat

        Waktu paling tepat untuk berkunjung adalah akhir tahun sampai bulan Mei. Di periode ini cuaca bagus, matahari cerah dan ombak relative tenang. Kita bisa mencapai kawasan ini dengan boat dalam waktu kurang lebih 90 menit dari Kaimana. Dalam perjalanan kita bisa mampir untuk berenang dengan hiupaus, dan mengunjungi Pulau Namatota dalam perjalanan pulang. Tujuan di teluk ini adalah area Ermun.

        Ermun adalah area laguna berada. Tempat ini memiliki pantai pasir putih dengan ombak yang lebih tenang karena berada jauh di dalam teluk terhalang pulau-pulau kecil. Tempat ini juga menjadi titik awal pendakian ke puncak Tangga Seribu. Ya, mereka menyebutnya Tangga Seribu karena ada ratusan anak tangga untuk naik ke atas. Ada sekitar 780 anak tangga (my friend counted it). Aku ke sana sebelum tangga itu dibuat, jadi lebih alami dan menantang. Namun, kawasan ini jauh dari pemukiman jadi tetap saja cukup liar. 

        Sepanjang perjalanan ke atas, kita bisa melihat beberapa pohon pala yang dipenuhi buah. Setelah itu, ada sungai mengalir dan hutan lebat. Karena dulu belum ada tangga, jadi kami menerobos semak-semak dan tumbuhan menjalar di beberapa tempat. Sampai tanpa disadari aku menabrak ranting pohon yang dipenuhi semut hitam. Bisa dibayangkan apa yang terjadi selanjutnya. Ya. Semut-semut itu mendarat di kepalaku. Beberapa menggigit kulit kepala dan rasanya seperti ditusuk banyak jarum suntik. Sesaat aku seperti pusing, tapi untunglah teman-teman membantuku. 

        Di hutan ini banyak pohon kayu besi yang memiliki ukuran tidak masuk akal. Besar sekali. Selain itu beberapa jenis kupu-kupu dan burung juga bisa ditemui di sini seperti hornbill pastinya. Setelah sekitar satu jam perjalanan, kami sampai di puncak. 

        Et voila!

        Pemandangan teluk dan laguna dengan pulau-pulau kecil tampak di bawah sana. Gradasi laut pun tampak menonjol. Di sebelah kanan tampak selat Iris yang berakhir di Laut Arafura. Kanopi hijau menutupi pulau-pulau yang berlatar birunya air laut. Sesaat, lupakan segala kecemasan yang ada. 

        Itu saja?

        Kita bisa mengelilingi laguna dengan boat. Sepanjang tour singkat, kita bisa melihat marble ray (sejenis ikan pari berbentuk seperti piringan hitam raksasa) berenang di perairan dangkal, burung-burung, dan beberapa bukit batu yang mencengangkan. Sebenarnya di sini juga bisa dilakukan pengamatan burung Cenderawasih. Namun, masih kurangnya informasi tentang bagiamana dan kapan pengamatan bisa dilakukan serta guide dan berapa biaya yang harus dikeluarkan. Anyway, Triton Bay adalah salah satu landscape signature yang dimiliki pulau ini selain Raja Ampat. Terlebih lagi, ini adalah wilayah konservasi. 


         


        Share:

        Breathtaking Triton Bay

         

        Triton bay, kaimana, west papua
        Triton Bay, Kaimana, West Papua

        I can never believe while I’m writing this, just to share with you what I had experienced and seen. It was so beautiful that I really wanted to stay there as long as I could and it would’ve been very long. 


        Well, go to the points.


        Where is Triton Bay and How to Get There?

        Triton Bay is in Kaimana, West Papua. It’s in the “neck of the bird” of the New Guinea Island, popularly called the island of Papua. Triton Bay is facing the Arafura Sea and Iris Strait, and it’s a part of conservation area in Kaimana. This area is abundant of sea lives from tiny creatures to gigantic mammals such as whales, dolphins and a little bit far from it, the whalesharks. It’s reachable by boats, 90 minutes away from Kaimana. The best time to visit is by avoiding June-August as the weather gets shtty during those three months.

        There lies some villages like Lobo and Kamaka. But we’ll skip the villages as we’re going to lagoon area called Ermun.

        So let’s go!

        Ermun is in the inner part of the bay. It’s a lagoon area with islets and rocks standing. It’s also the starting point if we want to hike to see the view from the peak. It has white sand beach with calm waves for us to laze around and forget about all the bills and mortgage for a moment. 

        There are hundreds of steps to go up through before reaching the peak. There are estimated around 780 steps up (my friend counted it that made me like "really?"). I went there before they made the steps so ya, it’s more adventurous and wild. But anyway, it’s in the island where less human can be found so still, it’s wild. 

        On the way there we can see many things, from plants like nutmeg trees to animals (big ants, butterflies and birds). Once you get up there, you’ll see the panoramic view down there, the lagoon with rock and islets stuck, the gradation of the sea water. Breathtaking. We can later on have like a short tour around the lagoon. Marble rays swimming in shallow water, and birds flying above are what we see. It's just peaceful.


        Is that all?

        Actually, this place is also good to see the birds of paradise. But there is no comprehensive information about how and when to do it, and the guides to hire and how much it costs. Too bad. Anyway, Triton Bay is another signature landscape with richness in sea lives and pretty much pristine environment. If you’re tired with Raja Ampat (which is very hard to be so), you can drop by here and escape the bustle.  

        Share:

        Lobo: Desa Terindah Di Papua Barat


        Gunung Emansiri yang menjadi tempat tinggal Garuda. Sumber: ranggainthezone

        Desa itu bernama Lobo yang berada di kawasan Teluk Triton, Kabupaten Kaimana, Papua Barat. Bukan tanpa alasan kenapa saya bilang mengapa Lobo menjadi desa terindah sekaligus salah satu tempat terindah yang pernah saya kunjungi.


        Lokasi Di Teluk Triton

        Letak desa Lobo berada masuk ke Teluk Triton, yang menawarkan perairan yang tenang, meskipun di pertengahan tahun cuaca buruk karena pengaruh angin dari Australia. Desa ini bisa ditempuh dari Kaimana dengan boat selama kurang lebih 90 menit. Sementara ini hanya boat alat transportasi yang paling tepat untuk ke sana. Namun, beberapa tahun terakhir dibangun jalan darat yang menghubungkan Lobo dengan Kaimana. 

        Teluk Triton adalah salah satu kawasan konservasi di Kabupaten Kaimana. Kawasan ini kaya akan sumberdaya laut. Dalam perjalanan ke Lobo, kita bisa mampir melihat hiupaus di bagan, melihat ikan pari manta, kawanan lumba-lumba atau jika cukup beruntung paus Brydes yang muncul ke permukaan seakan menyambut siapa saja yang datang.

        Desa Lobo memiliki penduduk ± 700 jiwa. Sebagian besar dari mereka bekerja menjadi nelayan, dan juga bertani. Sebagian besar penduduk beragama Kristen, sedangkan tenaga dari luar Papua yang bertugas di sana beragama Islam, seperti tenaga medis. 

        Sisi-sisi desa bisa dijelajahi dalam waktu satu jam, dan bisa melihat pemandangan gunung Emansiri yang berdiri kokoh di belakang desa, untuk menjelajahi hutan Papua yang masih terjaga. Kegiatan pengamatan burung Cenderawasih bisa dilakukan dengan menyewa pemandu lokal. Namun, kurangnya informasi tentang bagaimana dan kapan untuk melakukan pengamatan burung menjadi kendala para pengunjung yang ingin melakukannya. 

        Cerita Garuda Dari Lobo

        Masyarakat Lobo percaya bahwa burung Garuda yang menjadi lambang negara berasal dari desa mereka. Seperti dikutip dari Antaranews, dulu terdapat dua telur yang menetaskan burung garuda berwarna hitam dan putih. Namun, yang berwarna putih tidak diketahui keberadaannya.

        Burung garuda yang berwarna hitam itu kemudian tumbuh dewasa dan tetap tinggal di Gunung Warinau. Suatu hari, terjadi banjir di Sungai Urera yang menyebabkan banyak manusia tewas.

        Bangkai manusia yang terbawa banjir itu menjadi makanan burung garuda. Dia mengikuti Sungai Urera sampai kemudian sampai ke Kampung Lobo.

        Setelah bangkai manusia yang terbawa banjir habis, burung garuda itu kemudian tinggal di Gunung Emansiri. Kampung Lobo terletak di kaki gunung tersebut.

        Karena tidak ada lagi bangkai manusia yang bisa dimakan, burung garuda itu kemudian mulai memangsa penduduk Kampung Lobo. Penduduk Kampung Lobo menjadi resah dan takut dimangsa burung garuda.

        Hingga suatu ketika, datang orang Portugis di Kampung Lobo. Orang Portugis itu kemudian menembak jatuh burung garuda. Bangkainya jatuh di bukit yang berbatasan langsung dengan tebing di pantai.

        Penduduk Kampung Lobo pun bersuka ria dengan tewasnya burung garuda. Di tempat burung garuda itu jatuh, kemudian dibangun tugu dengan patung garuda di puncaknya.

        Cerita tentang burung garuda itu tidak hanya berbekas di benak masyarakat Kampung Lobo, tetapi juga masyarakat Kabupaten Kaimana lainnya. Burung garuda kemudian juga diambil sebagai lambang Kabupaten Kaimana.

        Jejak Belanda

        Dulu di desa ini pernah dibangun benteng oleh Belanda. Mereka pertama kali datang ke Lobo pada tahun 1828, lebih awal dari kedatangan Belanda di Timika. Namun, sebagian dari mereka meninggal, menurut cerita masyarakat desa karena terkena malaria. 


        Tugu peninggalan Belanda di Lobo. Sumber: ranggainthezone

        Di salah satu sudut desa terdapat tugu untuk memperingati tentara Belanda yang tewas di Lobo. Pada tugu terukir "Ter Herinnering Aan de Overleden Militairen van de Bezetting van Fort du Bus" yang artinya kurang lebih adalah "mengenang para tentara yang meninggal di Benteng du Bus".

        Bentang alam, lokasi dan sentuhan cerita rakyat dan fakta sejarah membuat desa ini memiliki nilai yang bisa menjadi alasan bagi orang-orang untuk berkunjung. Tentunya, desa terindah ini hanya pendapat pribadi dengan parameter subjektif. Namun, dengan apa yang ditawarkan, it's really not bad to pay a visit and have some moments here.



        Referensi:
        Kisah Garuda Dari Kampung Lobo Di Kaimana
        https://m.antaranews.com/berita/564670/kisah-garuda-dari-kampung-lobo-di-kaimana
        Share:

        The Most Beautiful Village I've Ever Been, It's In West Papua!

        The "Broken Jetty" with mountain background is just dramatic to see. Source: ranggainthezone

        It's Lobo, located in Triton Bay area, Kaimana, West Papua. It is one of the most beautiful places I've ever been, not without reasons why I said so. 

        This village lies in the inner side of Triton Bay, that brings the calmer waves and waters, although in some months of the year, the weather can be irresistibly rough. It takes around 90 minutes by boat from Kaimana, and that's the only best way to get there so far. 

        Triton Bay is one of the conservation areas in Kaimana, and it's rich of what sea can offer. On the way there we can drop by seeing the whaleshark at the bagan, see the rays, the dolphins and if you're lucky, Brydes whales breaching as if they're saying "Hi". What lies beneath the surface at the bay gives the people resources for their lives. 

        Approaching the shore, we can see the rocky mountain standing at the back of the village, with mist covering the top and the green colour falls down to the valley. The village has total population of ±700 people, predominantly Christians with few muslims that are actually medics from outside Papua. Most of them rely on fishing although some start farming to support their families. 

        We can go around the village within an hour, as every place is in walking distance. There are four churches, an elementary school and a medical center. Other than it, we can go to the jetty or go up to the mountain.

        The island of New Guinea is home for birds of paradise. We can actually do birds watching by hiring local guides, but too bad there's no pricing that's set for the activity thus visitors are reluctant to have it. Not to mention, lack of information of how and when we can do the birds watching is just another thing to settle. 

        Folklore about Garuda in Lobo

        There is a monument of Garuda (mythological bird that's similar to eagle) the symbol of Indonesia, located across the village. People believe that the symbol of Indonesia comes from the Garuda from this area. 

        So there were two eggs that hatched a black and a white eagle. The white eagle was gone undetected apparently, but the black one endured and lived in Mount Warimau. 

        One day, there's flooding that killed people in Urera River and the flood dragged the dead bodies to the shore area (today's Lobo). The eagle followed them and ate them all. Since then, it moved to reside in Emansiri, the mount behind the village. 

        Endulged by "gastronomical desire" of eating humans, and no more dead bodies, the black eagle then started hunting the villagers. They were frightened by the hunting eagle until the Portuguese came and shut it down. From then on, people use the giant eagle as the symbol of the village. Personally, I don't really get what it means, that people took something that once hunted them, as a symbol. I mean, usually we make a symbol out of the philosophy of something as caretakers or guards, not one taking us as preys. Anyway, whatever. A story is a story. 

        Dutch arrival

        The Dutch first opened the settlement in 1824 and built a fort named Bus. We can see the remnants of the fort here. There's a monument commemorating Dutch soldiers died in the area. It was carved "Ter Herinnering Aan de Overleden Militairen van de Bezetting van Fort du Bus" which means "In memoriam, the soldiers who died at Fort Bus". 


        The monument built by Dutch in 19th century. Source: ranggainthezone

        The topography, the rich Triton Bay and the folkloric touch have given this small village uniqueness and I take it as the most beautiful village I've ever been. It's really not that bad to drop by and say hello. You will see like when you feel the breeze of Triton Bay. 

        Share:

        Swimming With Whalesharks In Kaimana, West Papua, Indonesia.

        Look how massive the fish are!

        Really? But they're gonna eat us alive.


        Yes, we can swim with whalesharks, but they won't eat us alive, at least not until the end of the world. 

        Talking about whaleshark, many people think that it's beast and human predator. But no. Instead, they're very kind and gentle animals. Fish, to be exact. Big fish. Biggest fish.

        Whalesharks (latin: Rhyncodon typus) is the largest kind of shark and the largest fish we have on this planet. The reason why it's called whaleshark is because their massive body size that's like whales, and their diet which is plankton and small tiny fish, again, just like some of the whales.

        So, are they shark or whales? Fish or mammals?

        They're shark which makes them fish, and the biggest fish thanks to their gigantic size. We can see the differences between fish and mammals from its tails. Fish tails are vertical, and mammal tails are horizontal. And of course, fish use gills while mammals use lungs to breathe. That's why you'll never find a whaleshark with sprouts, of course it just makes no sense.

        It lives and hangs around the tropical water. They love warmth. So Indonesia is one of the best places to reside. We can see them in Kaimana, West Papua and around Cenderawasih Bay. Other places we have a chance to see them are in Gorontalo, north coast of East Java, the Philippines, Maldives and other tropical waters. 

        Now let's go to Kaimana to watch them.

        The Bicary Bay area is where we can find them around. The best time to visit is from October to May. We don't recommend you to visit on June, July, or August as the weather is so hilarious, just bad. And no whaleshark at that time. The Bicary Bay can be reached from Kaimana by using longboat, and it takes around 1 hour. We gotta get up early as it comes up to the surface from 6-7 to and it swims back to depth when they're full.

        Wait, we come when they're having breakfast? Let's just say yes.


        How it looks like on the bagan

        In Bicary Bay, there are bagans (fishing platform floating and guarded by fishermen, and it's like floating hut for fishing), and the whaleshark will come visit the bagans. Usually, they like half-residing near certain bagans where they can get small fish from the fishermen's nets. 


        Once we arrive, we need to buy the baitfish the bagan men sell. It costs 250-400 thousand rupiahs per box. The bagan men will slowly throw the baitfish to the water to keep the giant on the surface while the visitors have quality time swimming, snorkeling or even diving. Or we can try to get up to the bagan and feed the fish from above, just be careful it's slippery as hell. If lucky, there are also free rider dolphins, marlins, giant trevally swimming around and grab the free food. It's feeding frenzy!


        Note: 

        Please brings lots of fresh water as it's long journey and it's hot. Human needs to stay hydrated. 

        You can actually arrange your stay and trip by looking at info on www.tritonbaydivers.com












        Share:

        Berenang Dengan Hiupaus Di Kaimana, Papua Barat

        Look how massive the fish are! sumber: ranggainthezone


        Mendengar kata hiupaus pasti terbayang hewan yang besar dan menyeramkan karena bisa saja kita akan dimakan olehnya. Namun, banyak yang tidak mengira bahwa hewan ini sebenarnya adalah jenis hiu yang tidak akan memakan hewan besar termasuk manusia. 

        Hiupaus atau whaleshark (nama latin Rhyncodon typus) merupakan hewan pemakan plankton dan merupakan jenis hiu terbesar sekaligus ikan terbesar di dunia, dengan panjang bisa mencapai 12 meter. Ikan ini dinamakan hiupaus karena ukuran tubunya yang sangat besar dan jenis makanan yang sama dengan paus. Tidak sedikit yang bingung apakah hiupaus itu hiu atau paus. Untuk membedakannya bisa dilihat dari ciri-ciri umum antara mamalia laut dan ikan, dengan melihat ekornya. Ikan memiliki ekor vertikal (tegak), sedangkan mamalia memiliki ekor horizontal (mendatar), misalnya paus, lumba-lumba. Selain itu, hiupaus bernafas menggunakan insang, tidak seperti paus dan lumba-lumba yang bernafas dengan paru-paru. 

        Ikan yang dipanggil gurano oleh masyarakat Papua ini hidup di perairan tropis yang hangat. Jadi bisa dipastikan di Indonesia kita bisa melihat ikan ini. Salah satu yang terkenal adalah di Kaimana, Papua Barat dan kawasan Teluk Cenderawasih. Selain di dua tempat tersebut ada juga di Gorontalo dan pantai utara Jawa Timur (Situbondo dan sekitarnya). Kalau di luar negeri hiupaus teramati di daerah Filipina, Maladewa, dan daerah tropis lainnya. 


        Now let's go to Kaimana to see them. 

        Hiupaus biasanya berada di perairan Kaimana, lebih tepatnya di daerah Teluk Bicary. Bulan-bulan yang bagus untuk berkunjung adalah mulai Oktober hingga April di mana cuaca cerah dan laut teduh, hal yang sangat disukai oleh hewan ini. Perjalanan ke Teluk Bicary ditempuh selama satu jam dengan menggunakan longboat dari Kaimana. Disarankan untuk berangkat pagi sekali karena hiupaus biasanya akan ke permukaan sekitar pukul 7 pagi. 


        Suasana di atas bagan. Sumber: Instagram

        Di Teluk Bicari, seperti tempat-tempat di sekitarnya, terdapat bagan-bagan tempat hiupaus biasa mendekat untuk mencari makan. Bagan adalah sebuah platform mengambang di tengah laut yang digunakan untuk menangkap ikan menggunakan jaring. Jadi hiupaus akan berada di bagan-bagan tersebut (meskipun mereka cenderung menetap di salah satu atau dua bagan) untuk mendapatkan ikan-ikan kecil yang ikut terjaring oleh nelayan. 

        Setelah sampai, kita beli umpan berupa ikan kecil yang nelayan bagan jual per box. Harganya bervariasi, bisa 250-300 ribu rupiah pee box-nya. Setelah semua siap, kita bisa terjun ke dalam air dan berenang, snorkeling atau bahkan menyelam dengan ikan raksasa tersebut. Tentunya harus dengan pemandu untuk aktivitas tersebut terutama menyelam. 

        Nelayan akan melempar ikan-ikan kecil dalam box ke laut sedikit demi sedikit untuk memancing hiupaus agar tetap ke permukaan. Apabila beruntung, akan ada juga rombongan lumba-lumba dan ikan marlin yang menjadi free rider dan berebut umpan ikan. Bisa juga kita ikut memberikan umpan ikan dari atas bagan, namun hati-hati karena seringkali permukaan kayunya licin dan pengaruh ombak yang membuat bagan bergoyang setiap saat. 


        Yang harus disiapkan:

        * Baju renang / peralatan snorkeling 
        * Sunscreen 
        * Makanan dan airputih yang banyak untuk tetap terhidrasi.

        Catatan:

        Silahkan bertanya tentang harga sewa longboat, harga tergantung negosiasi.





        Share:

        Keindahan Namatota, Pulau Kecil Di Kaimana, Papua Barat

        Pantai timur Pulau Namatota

        Pulau Namatota terletak di sebelah tenggara kota Kaimana. Berjarak sekitar satu jam perjalanan dengan menggunakan longboat, pulau ini merupakan salah satu pulau yang menjadi bagian wilayah konservasi di Kaimana. Pulau ini terletak di bagian leher burung Pulau New Guinea dan berbatasan dengan laut Arafuru di sebelah barat, teluk Bicari di bagian utara dan timur, serta teluk Triton di sebelah selatan. 

        Dulu Namatota adalah sebuah kerajaan. Berdasarkan sejarah, kerajaan di Papua berada di Semenanjung Bomberai dan Semenanjung Onin. Kerajaan Namatota atau juga dikenal Kerajaan Kowiai berada di Semenanjung Bomberai ini. Kerajaan Namatota tidak memiliki istana yang megah sebagaimana kerajaan lain pada umumnya. Namun, mereka memiliki sebuah Rumah Raja yang disebut sebagai Rumah Adat. Rumah Raja saat ini tidak lagi dihuni oleh raja tetapi hanya digunakan untuk menyimpan pernak-pernik atau assesoris raja-raja Namatota. Selain itu, yang bisa disaksikan dari sisa kerajaan ini adalah berupa makam keluarga yang terletak di samping masjid atau tepat berada di depan Rumah Raja.

        Sebagian besar penduduk di pulau ini bekerja sebagai nelayan. Kekayaan laut di sekitar pulau memang tidak perlu diragukan lagi. Mereka menjual ikan hasil tangkapan ke pasar di Kaimana atau melalui perusahaan ikan yang berada tak jauh dari kampung Namatota. 

        Beberapa tempat yang bagus untuk dikunjungi di sekitar pulau Namatota adalah kawasan Teluk Bicari di mana pengunjung bisa melihat mamalia laut seperti lumba-lumba dan paus Brydes. Selain itu perairan Teluk Triton yang memiliki pemandangan yang sangat bagus (di tulisan selanjutnya akan dibahas secara lebih rinci). Hal yang menjadi ikonik di pulau ini adalah jetty di sisi barat pulau, di mana Dion Wiyoko pernah berfoto untuk acara traveling terkenal sebuah stasiun TV. 

        Pantai terkenal di sekitar Namatota adalah pantai Sangnus dan pantai panjang dengan hamparan pasir putih di seberang Namatota. Selain itu, hamparan pasir putih terbentang sepanjang pesisir barat pulau, yang berbatasan dengan bukit batuan di sisi dalam pulau. 

        Waktu berkunjung terbaik adalah mulai bulan November sampai dengan April, saat musim Angin Barat. Pada waktu tersebut kita bisa menikmati laut yang teduh dan cuaca cerah. Bulan Juni-Agustus adalah puncak musim Angin Timur di mana cuaca buruk dan ombak besar sehingga akan sangat tidak nyaman untuk melakukan perjalanan. 

        Share:

        Kota Senja Kaimana, Papua Barat

        Selama dua tahun saya di Kaimana, tidak ada perubahan yang dramatis dari kota kecil ini. Berbeda dengan kota-kota lain di nusantara, Kaimana dari sisi geografis berada cukup jauh dari kota besar terdekat, seperti Sorong atau Manokwari. Namun kota kecil ini sangat kaya akan budaya dengan bercampurnya latar belakang dari berbagai daerah, masyarakat lokal Papua, Makassar, Manado, Minahasa, Ambon, Jawa, Madura, Nusa Tenggara, budaya Cina dan Arab, semuanya hidup berdampingan di sini. 

        Tidak ada hal fancy atau berbau metropolitan di sini. All is basic. Namun karena saya memang suka dengan tempat baru, orang-orang baru, nggak ada masalah. Now I'm going to show you some basic places in town. 

        Pertama kita ke pasar Otsus. Salah satu tempat di mana kita bisa mengetahui keseharian masyarakat setempat, dan membaur adalah pasar tradisional. Tempat berniaga ini terletak antara Bandara Utarom dan Kota. Pasar ini terbagi dua, yakni pasar ikan yang berada persis di sebelah laut serta pasar sayur di seberangnya. Di pasar ikan terdapat banyak sekali jenis hasil laut, mulai cakalang, grouper, mubara (giant trevally), cumi-cumi, kerang dan tentunya kepiting Papua yang sangat terkenal itu. Dan harga kepitingnya murah, 8.000 - 12.000 rupiah per ekor. Dan besar. Selain itu ada daging seperti daging rusa dan babi. Di Kaimana jarang sekali tersedia daging sapi, karena memang jarang sekali peternak sapi di sini, kalaupun ada juga tidak memelihara banyak.

        Di pasar sayur terdapat banyak buah-buahan yang sebagian besar dipasok dari luar daerah, seperti Manado. Di sini kalau beli sayur bukan menggunakan satuan per kilogram tapi tumpuk. Misalnya tomat 1 tumpuk. Unik sekali. Yang paling membahagiakan adalah ketika musim durian. It's like heaven of durian here and the whole town. 


        Selanjutnya adalah pelabuhan Kaimana yang terletak di pusat kota. Biasanya orang-orang menghabiskan waktu di sekitar pelabuhan. Ada tempat bernama Jembatan Jodoh yang menghadap pelabuhan. Sebenarnya ini lebih seperti dermaga or maybe patio di samping laut ketimbang jembatan. Whatever

        Seperti nama belakangnya, orang-orang percaya bisa mendapatkan teman atau bahkan jodoh di sini haha. Biasanya orang menghabiskan sore hari di sini, sambil menunggu momen matahari terbenam. Bahkan Presiden Jokowi juga pernah bersenja ria di sini saat beliau berkunjung pada tahun 2019. It's one of my favourite places in town. 

        Selain itu di sepanjang jalan Trikora (yang menurutku seperti little China town-nya Kaimana) pada malam hari banyak penjual menjajakan dagangannya di sini, mulai aksesoris sampai makanan. Oh iya, ada tempat sate enak sekali di sini, di dekat kantor bank. Menurutku itu adalah sate terenak di kota! :D


         

        Share:

        Kaimana: Sebuah Perkenalan

        Apa yang pertama kali terlintas di pikiran ketika mendengar Kaimana?


        Yup. Benar sekali. Tidak tahu apa itu. 

        Apakah itu kata benda? Atau nama tempat? Atau nama makanan? Atau nama aplikasi permainan?

        Hahaha. 


        Peta Papua Barat. Kaimana terletak di "dagu" dan "leher" dari "kepala burung" Pulau New Guinea. Sumber: www.batasnegeri.com 


        Daripada bingung, let’s just get to the point. 

        Kaimana adalah sebuah kabupaten yang terletak di tenggara provinsi Papua Barat, lebih tepatnya di bagian dagu burung (lihat peta). Kabupaten ini memiliki luas kurang lebih 18.500 kilometer persegi, lebih besar daripada provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Wilayahnya terdiri daerah pesisir yang berbatasan dengan pegunungan di bagian inner daratannya, serta pulau-pulau kecil sepanjang pesisir. Wilayah ini memiliki jumlah penduduk sekitar 60,000 jiwa yang menyebar mulai bagian utara sampai bagian selatan yang berbatasan dengan Mimika.


        Sebagian besar perekomian ditopang dari hasil laut. Karenanya di sini sumber daya laut berperan penting dalam kehidupan sehari-hari, not to mention sebagian besar juga masyarakatnya adalah nelayan dan petani. Namun kegiatan jasa juga mulai berkembang di sini, seperti transportasi, keuangan, logistik dan akomodasi. 


        Akses untuk menuju wilayah ini adalah dari laut dan udara. Dari laut bias menggunakan kapal Pelni, sedangkan akses udara ada penerbangan dari Sorong. Sekedar informasi saja Sorong adalah pintu gerbang Papua Barat. Dari Sorong, penerbangan bias dilanjutkan ke berbagai kota di Papua Barat dan Papua. Penerbangan dari sorong ditempuh dalam waktu satu jam. 



        Dari penjelasan di atas sepertinya Kaimana itu terpencil dan tidak ada istimewanya sama sekali ya. 


        Eits, jangan salah. Wilayah ini punya banyak sekali untuk dieksplor, dari daratan sampai lautan. Oh iya, Kaimana juga dijuluki sebagai Kota Senja. Pernah dengar lagu berjudul “Senja Di Kaimana”? Yup. Karena senja di kota kecil ini bagus sekali. 


        Kalau senja pasti di mana-mana juga ada. 

        Wait, nanti ada informasi tentang apa-apa saja yang unik dan worth it untuk dikunjungi di sini. Until then, enjoy the sunset photo in a small town Kaimana

        Sunset view di Kampung Baru, Kaimana.

        Share: