Cerita Dari Triton Bay


Sebagian besar pasti masih belum tahu tentang Teluk Triton (Triton Bay). Sama, aku juga begitu. Jangankan Triton Bay, Kaimana saja aku baru tahu setelah confirmed aku berangkat. Dan betapa terkejutnya aku ketika harus naik pesawat 4 kali. This country is huge, man.

Triton Bay adalah sebuah teluk yang terletak di tenggara Kaimana, berada di “leher burung” pulau Papua. Ini bagian dari wilayah konservasi di Kaimana, dan pastinya kaya akan sumberdaya laut. Di kawasan ini kita bisa menjumpai paus Bryde (hampir) sepanjang tahun, melakukan kegiatan menyelam, melihat lumba-lumba dan hewan besar lainnya. 

triton bay, kaimana, papua barat
Triton Bay / Teluk Triton, Kaimana, Papua Barat

Waktu paling tepat untuk berkunjung adalah akhir tahun sampai bulan Mei. Di periode ini cuaca bagus, matahari cerah dan ombak relative tenang. Kita bisa mencapai kawasan ini dengan boat dalam waktu kurang lebih 90 menit dari Kaimana. Dalam perjalanan kita bisa mampir untuk berenang dengan hiupaus, dan mengunjungi Pulau Namatota dalam perjalanan pulang. Tujuan di teluk ini adalah area Ermun.

Ermun adalah area laguna berada. Tempat ini memiliki pantai pasir putih dengan ombak yang lebih tenang karena berada jauh di dalam teluk terhalang pulau-pulau kecil. Tempat ini juga menjadi titik awal pendakian ke puncak Tangga Seribu. Ya, mereka menyebutnya Tangga Seribu karena ada ratusan anak tangga untuk naik ke atas. Ada sekitar 780 anak tangga (my friend counted it). Aku ke sana sebelum tangga itu dibuat, jadi lebih alami dan menantang. Namun, kawasan ini jauh dari pemukiman jadi tetap saja cukup liar. 

Sepanjang perjalanan ke atas, kita bisa melihat beberapa pohon pala yang dipenuhi buah. Setelah itu, ada sungai mengalir dan hutan lebat. Karena dulu belum ada tangga, jadi kami menerobos semak-semak dan tumbuhan menjalar di beberapa tempat. Sampai tanpa disadari aku menabrak ranting pohon yang dipenuhi semut hitam. Bisa dibayangkan apa yang terjadi selanjutnya. Ya. Semut-semut itu mendarat di kepalaku. Beberapa menggigit kulit kepala dan rasanya seperti ditusuk banyak jarum suntik. Sesaat aku seperti pusing, tapi untunglah teman-teman membantuku. 

Di hutan ini banyak pohon kayu besi yang memiliki ukuran tidak masuk akal. Besar sekali. Selain itu beberapa jenis kupu-kupu dan burung juga bisa ditemui di sini seperti hornbill pastinya. Setelah sekitar satu jam perjalanan, kami sampai di puncak. 

Et voila!

Pemandangan teluk dan laguna dengan pulau-pulau kecil tampak di bawah sana. Gradasi laut pun tampak menonjol. Di sebelah kanan tampak selat Iris yang berakhir di Laut Arafura. Kanopi hijau menutupi pulau-pulau yang berlatar birunya air laut. Sesaat, lupakan segala kecemasan yang ada. 

Itu saja?

Kita bisa mengelilingi laguna dengan boat. Sepanjang tour singkat, kita bisa melihat marble ray (sejenis ikan pari berbentuk seperti piringan hitam raksasa) berenang di perairan dangkal, burung-burung, dan beberapa bukit batu yang mencengangkan. Sebenarnya di sini juga bisa dilakukan pengamatan burung Cenderawasih. Namun, masih kurangnya informasi tentang bagiamana dan kapan pengamatan bisa dilakukan serta guide dan berapa biaya yang harus dikeluarkan. Anyway, Triton Bay adalah salah satu landscape signature yang dimiliki pulau ini selain Raja Ampat. Terlebih lagi, ini adalah wilayah konservasi. 


 


Share:

Breathtaking Triton Bay

 

Triton bay, kaimana, west papua
Triton Bay, Kaimana, West Papua

I can never believe while I’m writing this, just to share with you what I had experienced and seen. It was so beautiful that I really wanted to stay there as long as I could and it would’ve been very long. 


Well, go to the points.


Where is Triton Bay and How to Get There?

Triton Bay is in Kaimana, West Papua. It’s in the “neck of the bird” of the New Guinea Island, popularly called the island of Papua. Triton Bay is facing the Arafura Sea and Iris Strait, and it’s a part of conservation area in Kaimana. This area is abundant of sea lives from tiny creatures to gigantic mammals such as whales, dolphins and a little bit far from it, the whalesharks. It’s reachable by boats, 90 minutes away from Kaimana. The best time to visit is by avoiding June-August as the weather gets shtty during those three months.

There lies some villages like Lobo and Kamaka. But we’ll skip the villages as we’re going to lagoon area called Ermun.

So let’s go!

Ermun is in the inner part of the bay. It’s a lagoon area with islets and rocks standing. It’s also the starting point if we want to hike to see the view from the peak. It has white sand beach with calm waves for us to laze around and forget about all the bills and mortgage for a moment. 

There are hundreds of steps to go up through before reaching the peak. There are estimated around 780 steps up (my friend counted it that made me like "really?"). I went there before they made the steps so ya, it’s more adventurous and wild. But anyway, it’s in the island where less human can be found so still, it’s wild. 

On the way there we can see many things, from plants like nutmeg trees to animals (big ants, butterflies and birds). Once you get up there, you’ll see the panoramic view down there, the lagoon with rock and islets stuck, the gradation of the sea water. Breathtaking. We can later on have like a short tour around the lagoon. Marble rays swimming in shallow water, and birds flying above are what we see. It's just peaceful.


Is that all?

Actually, this place is also good to see the birds of paradise. But there is no comprehensive information about how and when to do it, and the guides to hire and how much it costs. Too bad. Anyway, Triton Bay is another signature landscape with richness in sea lives and pretty much pristine environment. If you’re tired with Raja Ampat (which is very hard to be so), you can drop by here and escape the bustle.  

Share:

"Free Woman": Lagu self-empowerment dari album Lady Gaga "Chromatica"

Banyak hal mengejutkan di album Chromatica yang dirilis pertengahan tahun 2020. Lady Gaga menyuguhkan beat yang mengingatkan dengan nuansa disko tahun 80-90an. Dengan sentuhan Eurodance di track-nya, Chromatica menjadi satu paket penyemangat di tengah pandemi Covid-19. Namun, yang juga menarik perhatian adalah lirik lagu-lagu di album Chromatica yang penuh dengan pesan penyemangat, kesetaraan gender dan pastinya selebrasi. Salah satunya adalah lagu yang berjudul Free Woman.

Track kelima dari Chromatica ini memiliki lirik yang menekankan kebebasan akan beban berat dan rasa percaya diri. Menurut Lady Gaga lagu ini berkisah tentang perjalanannya melewati masa sulit ketika mengalami pelecehan seksual. Ia menyatakan

"Saya mengalami pelecehan seksual oleh seorang produser musik. (Kejadian) itu memperburuk pendapat saya tentang kehidupan, pendapat tentang dunia, pendapat tentang industri (musik), apa yang saya miliki untuk berdamai dan melewati ini semua sampai pada titik saya berada sekarang. Saya harus menerimanya. Dan ketika saya akhirnya bisa merayakannya, saya berkata, "Tahu nggak sih? Saya tidak akan bilang kalau saya itu penyintas atau seorang korban kekerasan seksual. Saya hanya seorang yang bebas yang telah melewati kejadian-kejadian yang sangat buruk."

Baris pertama

"I walk the downtown, hear my sound"

Memiliki arti saat dia melewati masa-masa tidak mudah. Dan hanya dia yang tahu. Dia mencoba memahami dirinya. 


Bagian yang paling saya suka adalah di chorus:

"I'm not nothing without a steady hand
I'm not nothing unless I know I care
I'm still something if I don't got a man
I'm a free woman"

Apapun yang terjadi (dengan diri), rasa yakin dan self-esteem lah yang akan menguatkan diri kita sendiri. Apalagi pada bagian "If I don't get a man" yang menyiratkan untuk tidak bergantung pada bersama dengan seseorang, bahwa hubungan itu tidak semata-mata sebagai kekasih yang bisa membuat kita hampa tanpanya. 

Yang saya suka selanjutnya adalah saat ia menyanyikan bagian

"This is the dancefloor I fought for
Ain't hard, that's what I'm living for"

Yang menurut saya bukti integritas Lady Gaga dan dedikasinya kepada musik dan cita-cita (hal-hal besar) yang ingin ia wujudkan melalui musik. Apapun yang telah terjadi yang menimpanya selama berkarir. Ini berlanjut pada bagian

"We own the downtown, hear our sound"

Dukungan dan solidaritas yang akhirnya bisa saling menguatkan. Lagu ini meskipun berjudul Free Woman tapi maksud lagu ini universal dan pastinya lintas gender. Dengan beat club era 90an, pesan positif lagu ini dapat tersampaikan dengan nuansa selebrasi. Penekanan I'm a free woman dan repetitif di bagian akhir lagu seakan berkata "bangga telah dapat melewatinya."






Referensi:
"The Powerful Reason Why Lady Gaga Won't Call Herself A "Survivor Of Sexual Assault""
https://www.vogue.co.uk/news/article/lady-gaga-sexual-assault
Share:

One Day Trip Berastagi, Sumatra Utara


pasar, makan buah, berastagi, Sumatra utara
Makan buah di pasar buah Berastagi, Sumatra Utara 


Kalau berbicara tentang Sumatra Utara pasti yang terlintas adalah: Medan dan Danau Toba. Belum ke Sumatra Utara kalau belum ke Medan atau Danau Toba. Namun, cerita di sini bukan tentang Medan atau Danau Toba, melainkan sebuah kota kecil dan sejuk bernama Berastagi. 

Kami berempat, aku, Sari, Indra dan Reza melakukan one day trip Berastagi dari Medan. Kegilaan sempat terjadi malam sebelum kami berangkat. Mulai kami kehilangan jejak satu sama lain ketika berada di Lapangan Merdeka Medan sampai akhirnya ada kabar bahwa Sari ngompol. Iya, Sari ngompol dan kami semua tidak tahu bagaimana bisa. 

Berastagi ada di mana?

Berastagi adalah sebuah kota kecil yang berada kabupaten Karo, Sumatra Utara. Jaraknya ±60 kilometer dari Medan. Karena berada di ketinggian, kota ini memiliki hawa sejuk, seperti Kota Batu di Jawa Timur. Ini adalah kampung halamannya Judika, penyanyi terkenal jebolan Indonesian Idol. Sepanjang perjalanan, aku dan Sari penasaran di mana rumah Judika, mungkin bisa mampir silaturahmi. 

Transportasi ke Berastagi

Ada beberapa pilihan yang bisa diambil untuk menuju Brastagi dalam one day trip kami, yakni:

  • Naik angkutan umum: banyak tersedia angkutan umum dari dan ke Berastagi. Kami naik bus. Kami naik dari Simpang Pos Medan, dan perjalanan ditempuh dalam waktu ±2 jam. Enaknya naik angkutan umum adalah lebih murah, cuma Rp10,000 saja untuk tiket busnya. Note: selalu tanya terlebih dahulu ya jurusan busnya, sebelum naik. Bagi yang mabuk darat harus siap-siap mental dan kantong muntahan karena jalanan berliku naik turun dan semua orang sudah mengenal sopir Medan seperti apa menghadapi jalanan. 
  • Naik mobil bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih sama. Ingat ya jalanan berliku naik turun jadi harus tetap waspada.
  • Naik motor. I don't really recommend this but selalu hati-hati ya!

tugu perjuangan, berastagi, tanah karo
Tugu Perjuangan Berastagi


Apa saja yang ada di Berastagi?

Sepanjang perjalanan kami melihat rumah yang di halaman depan atau di samping rumah terdapat kuburan. Kami bertanya-tanya kenapa tidak di pemakaman umum seperti biasanya? Mungkin ada yang bisa menjelaskan?

Kami sampai Berastagi pukul 11 pagi. Kami menyusuri jalanan melewati Tugu Perjuangan Berastagi yang terletak di bundaran di tengah kota. Hal yang kami lakukan setelah kami sampai adalah mencari tempat makan. Kami lapar sekali. Oh iya di sini kalau mau cari makanan halal tinggal ke warung yang ada tulisan halal atau muslim. Berikut beberapa tempat yang kami kunjungi selama one day tour di Berastagi.

Pasar Buah Berastagi

Ini adalah tempat yang paling aku sukai di sini. Di pasar ini terdapat berbagai macam buah dan sayur hasil petani lokal. Mulai apel, jeruk, tomat sampai beberapa yang bahkan kami tidak tahu itu apa. Buahnya berwarna-warni dan terlihat segar. Aku tergoda dengan tomat besar di salah satu stand. Aku membeli 4 buah, dibagikan ke teman-teman dan langsung di makan di tempat. Enak banget!!!

pasar buah berastagi, tanah karo, sumatra utara
Pasar Buah Berastagi, Sumatra Utara

Selain buah, di sini juga menjual aneka makanan dan souvernir. Kami sibuk memilih souvenir untuk dibeli. Ada kerajinan kayu yang berbentuk rumah adat Karo, gantungan kunci, baju dan kain-kain tradisional. Aku membeli beberapa souvenir dan di salah satu stan ternyata ada yang menjual uang keluaran lama. Ada yang dari tahun 1950an, ada juga dari tahun 1980-1990an. Aku membeli uang kertas pecahan Rp500 yang gambar orangutan itu dengan harga Rp20.000 rupiah.

Itu aja? Ternyata tidak. Kami bertiga coba naik kuda yang disewa. Kudanya tidak besar, seperti kuda anakan. Kami berkeliling, melewati museum dan kembali lagi ke titik awal. Lumayan menantang karena tidak seperti di Bromo dengan area luas untuk menunggang kuda, di sini kami lewat pinggir jalan raya yang naik turun. Jadi takut jatuh dan ditabrak atau nabrak kendaraan yang lewat. But we had fun!

Museum Pusaka Karo

Di museum ini terdapat beberapa benda peninggalan yang menjadi bentuk budaya masyarakat adat Tanah Karo seperti baju, topeng, ilustrasi kehidupan masa lalu, senjata, miniatur rumah adat Karo dan beberapa koleksi koin. Kami menyumbangkan mata uang asing yang kami miliki seperti Ringgit Malaysia, Peso Filipina, Dollar Singapura dan Bath Thailand untuk menambah koleksi museum. Sama seperti museum-museum pada umumnya, tempat ini juga sepi pengunjung. Untuk tiket masuknya adalah Rp0.00 alias gratis.


koleksi, museum, tanah karo, artefak,
Salah satu koleksi Museum Pusaka Karo, Berastagi, Sumatra Utara


Gereja Katolik Inkulturatif Karo St. Fransiskus Asisi

Gereja ini adalah perpaduan budaya Kato dengan Kristen. Seriously gerejanya bagus dan unik sekali. Bangunannya berbentuk rumah adat Karo dan jujur tidak terlihat seperti gereja pada umumnya. Warna bangunan didominasi hitam, putih dan merah. Gereja ini diinagurasikan oleh archbishop Medan, kita bisa melihat dari foto-foto yang terpajang di gereja. Entah berapa ratus kali Sari memencet tombol kamera dan mengarahkannya ke dirinya sendiri. Menurutku ini bangunan paling kece di Berastagi. Gereja ini berada di pinggir jalan besar jadi tidak akan sulit menemukannya. 

Pemandian air panas gunung Sibayak. 

Brastagi berada di bawah gunung berapi aktif dan banyak sekali sumber air panas di sini. Banyak yang akhirnya dijadikan pemandian. Kami menghabiskan waktu sore itu dengan berendam di air panas dan itu nyaman sekali di tengah dinginnya cuaca Brastagi. Bayangkan saja jam setengah dua siang cuaca sudah berkabut. Berastagi adalah salah satu kota terdingin di Indonesia yang pernah ku kunjungi.

Berendam di pemandian air panas adalah kegiatan terakhir di one day trip di Brastagi, Sumatra Utara. Kami menunggu lumayan lama sebelum akhirnya bus tujuan Medan tiba. FYI ya untuk bus jurusan Medan tidak 24 jam ya jadi jangan sampai kemalaman. Otherwise, you have to stay overnight

Karena kami penumpang terakhir yang masuk jadi hanya kebagian sisa kursi dan berpencar. Sari dan Indra duduk di tengah berpencar, sedangkan aku dan Reza kebagian kursi jackpot di bagian paling belakang. Bisa dibayangkan sepanjang perjalanan seperti naik rollercoaster. Segera setelah turun dari bus, Reza memuntahkan isi perutnya. Mungkin karena sejak di dalam bus ia berusaha menahan sensasi warr werrr yang bikin pusing, jadi setelah sampai inilah saat pelampiasan.

"Gak papa lo?" Tanya Indra.

"Jeroan masih nempel di perut. Nggak papa." Jawab Reza di sela-sela muntahnya. 

Nggak perlu alkohol untuk mabuk di sini. Cukup naik bus Medan-Berastagi. 

Anyway, ada yang bisa menambahkan tempat mana saja untuk dikunjungi selama di Berastagi? 








Share:

Cerita Dari Pulau Berhala, Sumatra Utara

open trip, pulau berhala, Sumatra utara


Negeri ini punya banyak sekali pulau terluar yang berbatasan langsung dengan negara lain atau perairan internasional. Di sini aku mau cerita tentang liburan di Pulau Berhala, salah satu pulau terluar Indonesia yang ada di Sumatra Utara. Banyak hal menarik yang kami temui selama mengikuti open trip ini.


Perjalanan Menuju Pulau Berhala

Kami berangkat bertiga, aku, Indra dan Sari, dari Batam menuju Medan, titik awal perjalanan panjang menuju pulau. Jujur kami sangat antusias karena bisa liburan bareng, we're just super happy and excited. Pesawat Bombardier mendarat mulus di Kualanamu. Sesampainya di arrival hall, kami bertiga seperti warga kabupaten yang main di ibukota provinsi. Maklum, karena beda sekali bandara di Batam dengan di Medan. Bumi dan langit. 


Bandara Kualanamu terletak 30 menit dari Medan dengan naik kereta bandara. Sebenarnya bandara ini accessible dengan berbagai macam mode transportasi, jadi bisa pilih mau naik bus, mobil, atau kereta. We took airport train as it looked fancy! Dan nyaman banget! Harga tiketnya? Rp100,000. 


Kami menuju sebuah café, tempat berkumpulnya seluruh peserta open trip. Lumayan banyak pesertanya, sekitar 20-an orang, ditambah beberapa orang panitia. Anyway, kami dapat info open trip ini dari our friend, dan sekarang sudah banyak yang menawarkan paket-paket ke sana. Setelah semua datang, kami segera menuju bus.


"Ini?" Sari sepertinya terkejut melihat penampakan bus yang akan ia naiki. Yang akan kami semua naiki.


"Nggak ada kipas anginnya gitu di dalam?" dia masih terkejut. 


Bus berangkat menuju Serdang Bedagai, sebuah kota pelabuhan di pesisir utara. Kami naik bus tanpa AC yang mengingatkanku dengan bus jurusan Malang-Dampit yang warna orange itu. Plus, Medan kan panasnya seperti gladi resik di neraka biar malam sekalipun, jadi bisa dibayangkan kelenjar keringat Homo Sapiens di besi reot berjalan itu seperti digas pol selama dua jam perjalanan. But still, we're excited! 


Setelah sampai, kami harus menunggu sekitar satu jam karena harus mempersiapkan perahu dan loading logistik. Sebelum berangkat, semua peserta diingatkan kembali untuk menuntaskan segala urusan metabolisme selama masih di darat, karena waktu tempuh dari sini menuju pulau tujuan kurang lebih 4-5 jam. Setelah semua siap, kapal pun berangkat.


Kapal yang kami naiki modelnya seperti kapal pok-pok tapi open air dan jauh lebih besar, bisa memuat semua orang ditambah logistik dan barang bawaan peserta. Kapal menyusuri daerah bakau dengan air yang relatif tenang sampai akhirnya keluar menuju lautan lepas, Selat Malaka.

Sebagian mulai ngantuk, berusaha mencari posisi di mana mereka bisa tidur tanpa harus mencium jempol peserta lain, atau menghadap pantat peserta lain, dan tidak menghirup kentut peserta lain. Malam itu bulan terlihat besar dan kemerah-merahan. I looked around and all I saw was sea. Ini benar-benar di tengah lautan. Penasaran karena Selat Malaka adalah salah satu selat tersibuk di dunia, tapi sepanjang malam itu tidak terlihat kerlipan lampu kapal atau apapun yang lewat. Seperti hanya ada kapal kami saja malam itu. I dunno. 

Ombak semakin besar dan peserta terbangun dari tidurnya. Lebih khawatir karena baju mereka akan basah terkena cipratan air laut sih, bukan ke hal-hal yang mengkhawatirkan, meskipun jelas-jelas ombaknya mengkhawatirkan. Jelas tidak ada acara makan snack sepanjang perjalanan dini hari itu. Matahari keluar dari sarangnya dan kami masih di atas kapal. Tak lama kemudian, kami tiba di tempat tujuan. 


Keseruan Di Pulau Berhala

Kesan pertama adalah laut di sini jernih banget! Dari atas Jetty terlihat ikan warna-warni berbagai macam ukuran berenang bebas seakan menyambut tamu yang baru datang. Melihat pantai yang bagus ini, aku, Sari dan Indra bahagia banget seperti sekawanan sapi melihat padang rumput. Kami semua bubar jalan dengan kegiatan masing-masing. Ada yang main air, langsung pergi snorkeling, berenang, makan cemilan, kenalan dengan peserta lain barangkali berjodoh, mandi dan menata barang bawaan di kamar.



FYI di sini kami tidur di ruangan besar seperti barak. Dan pasti dong banyak nyamuknya, jadi please bawa obat anti nyamuk. Untuk listrik di sini menggunakan diesel (genset) yang beroperasi dari jam 6 sore sampai jam 6 pagi. Siang hari? Lupakan. Dan untuk urusan kamar kecil, tersedia beberapa tapi harus antre ya. Ini seperti latihan pencarian suaka in case terjadi huru-hara.


Pulau Berhala terletak di antara Pulau Sumatra dan Semenanjung Malaysia, di tengah selat Malaka. Please jangan rancu dengan Pulau Berhala di antara Kepulauan Riau dan Provinsi Jambi ya. Koordinatnya adalah 3° 46' 24,000" LU - 99° 29' 58,000" BT. Di sini terdapat tiga pulau, yakni Berhala, Kakek dan Nenek. Hanya Pulau Berhala saja yang berpenghuni. Banyak yang bilang sebenarnya pulau ini lebih dekat dengan Pulau Pinang di Malaysia daripada dengan Sumatra. Pulau Pinang bisa ditempuh dalam waktu dua jam dari sini, bandingkan dengan lima jam menuju Sumatra. Karena ini pulau terluar, maka hanya terdapat kamp marinir yang menjaga dan berpatroli secara rutin di perairan sekitar. 


Ada legenda tentang pulau ini. Pada jaman dahulu, terdapat sebuah kapal besar di mana penumpangnya adalah orang-orang kaya. Mereka suka sekali bersenang-senang tapi melupakan orang tua mereka yang hidup menderita di darat. Karena kesal dengan ulah anak-anak mereka, maka orangtua mengutuk dan perahu itu berubah menjadi Pulau Berhala. It's just a story anyway. 


Puas dengan kegiatan masing-masing, menjelang senja kami secara bergantian berkeliling sekitar perairan menggunakan perahu karet. Terlihat susunan batu-batu besar membentuk kedua pulau tak berpenghuni itu, dengan kanopi hijau dari pohon-pohon besar menutupi. Seekor elang terbang rendah dan hinggap di pohon tertinggi di pulau itu. Meskipun jauh, tapi bentangan sayap hewan itu masih terlihat besar. 


Pas sekali, saat giliran kami adalah saat matahari terbenam. Jadi kami tidak melewatkan momen menikmati setiap detik di atas perahu, melihat horison perlahan berwarna kuning keemasan. Nggak ada foto berarti hoax! Terserah, tapi hape kami sudah off dan ada yang memang sengaja mematikannya karena keterbatasan listrik. Jadi hanya untuk hal-hal yang essensial saja. Kami praktis tanpa gadget, dan itu menenangkan. Berasa liburan banget tanpa gangguan dunia luar sana. 


Malam hari semua berkumpul menikmati barbeque. Semua orang mingle, bercerita keseruan apa saja yang mereka dapatkan hari itu. Terdapat beberapa tentara yang mengawasi. Puas dengan ikan bakar, jagung bakar, api unggun dan nyanyian dan lain-lain, kami semua tidur. Panas sekali di ruangan itu, ditambah suara mesin diesel yang berisik. Mungkin karena capek sekali jadi semua orang tidur dengan lelap. 


Mas-mas tentara ini auto jadi bulan-bulanan karena mirip dengan Norman Kamaru

Pagi hari kami naik ke puncak pulau menuju mercusuar. Perjalanan dari kamp menuju mercusuar sekitar 30-40 menit, melewati kamp marinir dan pos jaga terus naik ke atas. Ada ratusan tangga dan di beberapa tempat licin. Dari atas mercusuar terlihat pemandangan menyeluruh Pulau Berhala. Warna hijau dari hutan yang menutupi pulau berakhir dengan gradasi biru yang semakin gelap di tengah lautan. Bagus sekali. 


Kami menghabiskan waktu beberapa jam untuk sarapan dan free and easy alias terserah. Sebelum pulang, kami berpamitan kepada para tentara yang ada di sana. Mereka sangat welcome sekali selama kami di pulau. Saat itulah, beberapa peserta melihat ada salah satu tentara yang mirip dengan Norman Kamaru, tahu kan, yang lipsync lagu India itu. Nggak pake lama, auto jadi bulan-bulanan oleh kami semua (dasar nggak ada akhlak!). Ada yang minta foto lah, kasih nomor WhatsApp lah, godain langsung lah. Sepertinya dua hari di pulau membuat para peserta mulai tidak waras. Kami meninggalkan pulau lepas tengah hari.


Liburan singkat di Pulau Berhala sangat menyenangkan dan berbeda. Pertama, ini salah satu pulau terluar Indonesia di tengah Selat Malaka. Kedua, jarak yang jauh dan bagaimana kami ke sana sangat di luar perhitungan. Ketiga, keterbatasan yang justru menghindarkan kami dari overthinking dan benar-benar bisa menikmati liburan. Lagian, ada tentara di sana jadi satu kekhawatiran tentang keamanan wilayah bisa dilewati. 
















Share:

Naik Gunung Api Banda

Desa Lonthoir dan Gunung Api Banda dari Bèntèng Hollandia

Sebelum ke Gunung Api, saya menyempatkan  pergi ke Banda Besar dengan naik kapal kecil. Ini adalah pulau terbesar, di mana ada Desa Lonthoir yang sangat indah pemandangannya dari atas Benteng Hollandia yang terbengkalai. Selain itu, ada banyak perkebunan pala, kayu manis, kacang mete, dan kacang kenari (pohonnya besar sekali!). Di sini juga ada festival Cuci Parigi alias cuci sumur suci setiap sepuluh tahun sekali, terakhir tahun 2018. Jadi kalau mau lihat festival ini harus nunggu tahun 2028. Hmmm...

Selain itu, tidak banyak yang bisa dilihat di sini. Pulau ini memang lebih besar namun lebih didominasi dengan perkebunan rempah-rempah. Memang ada bangunan-bangunan peninggalan era kolonial namun tidak terawat, seperti dibiarkan begitu saja, ditutupi tanaman liar. Bahkan, ada bangunan berbentuk pintu dari batu dan ada tulisan VOC di atasnya, yang berada di antara tanaman pala dan semak liar. Jejak-jejak itu seakan bilang bahwa waktu tidak bisa begitu saja mengaburkan peristiwa sejarah di sana. 

Transportasi antar pulau terbilang murah yakni Rp5,000 saja sekali jalan, dengan naik kapal kecil. Kapal-kapal itu beroperasi dari pagi sampai sekitar jam 5 sore. Antara pulau Banda Neira dan Banda Besar bisa ditempuh dalam waktu 5-10 menit saja. Dari dermaga menuju desa Lonthoir bisa naik ojek dan harganya Rp20,000 karena memang jauh jaraknya. Kalau Banda Neira ke Banda Api (pulau tempat Gunung Api Banda) bisa ditempuh kurang dari 5 menit.

Akhirnya, it's the day  ke Banda Api. Gunung Api Banda memiliki ketinggian 656 mdpl, merupakan gunung aktif dan terakhir erupsi di tahun 1988. Sebelumnya saya bertanya ke masyarakat lokal bagaimana pergi ke sana, dan akhirnya ada yang bersedia mengantarkan pendakian dengan membayar Rp200,000. Mungkin akan lebih murah per orang kalau tidak solo travelling, dan tergantung negosiasi. 

Ternyata ada beberapa warga lokal yang ikut mendaki, siswa-siswa SMA. Kami berlima menyeberang dengan kapal kecil dan hanya butuh dua menit. Sempat kepikiran mungkin bisa berenang saja saking dekatnya jarak yg ditempuh. Seperti berenang di sekitar house reef  Triton Bay Divers, tapi pastinya arus di sini kencang karena ini adalah selat, dan pastinya tidak ada walking shark.

gunung api, banda, banda neira
Gunung Api Banda, Maluku 

Setelah sampai melanjutkan perjalanan ke puncak. Terakhir aku naik gunung adalah di Bukit Teletubbies di Kalimantan Selatan dan Gunung Panderman di Kota Batu—yang ternyata adalah bukit—jadi setelah lima belas menit perjalanan...


"Nggak papa kan?" tanya salah satu kawan. Saya muntah dong, jam tujuh pagi. Macam ibu hamil aja.


"Nggak papa. Masuk angin mungkin." Belum-belum sudah jadi Frodo Baggins yang sepertinya berat sekali beban yang ia pikul, terlihat lelah dan sakit-sakitan dalam perjalanannyauntuk melempar cincin laknat ke kawah Gunung Api. Anyway, namanya sama loh Gunung Api!

Akhirnya kita istirahat sepuluh menit sebelum melanjutkan perjalanan.

Medan yang dilalui naiknya menanjak dan terjal, banyak batuan kecil dan pasir, jadinya licin. Kayak shuffling. Seriously, you can sing "I'm sexy and I know it!" saat melewati medan terjal ini biar sensasi shuffling-nya lebih afdol. 

Tidak sabar untuk menikmati pemandangan dari puncak. Namun, semakin dekat ke puncak, kabut tebal dan angin menyelimuti pandangan. Sangat dingin. Lupakan pemandangan, karena sampai puncak kami semua kedinginan. Perjalanan naik gunung itu ditempuh dalam waktu sekitar dua setengah jam, lebih lama dari biasanya yakni dua jam, kata guide. 

Karena gunung aktif, jadi ada lubang di sela-sela batuan yang mengeluarkan uap panas. Jadi tinggal dicungkil-cungkil saja batunya, seperti bikin lubang, nah dari situ keluar uap panas.  Beberapa dari kami menghangatkan diri di sana, berasa sauna. 

Sambil menghangatkan badan, kami menikmati sarapan yang ternyata sudah disediakan oleh guide. Setelah muntah-muntah, tanjakan, jalan berkerikil, licin, dan kedinginan karena kabut, kami makan nasi bungkus dengan lauk ikan, plus kerupuk. Plus sambal di nasinya. Sumpah enak banget! 

Lama kami menunggu awan menghilang. Kami mondar-mandir di puncak agar tidak kedinginan. Ada yang mager menghabiskan snack, ada yang sibuk video call cek cuaca di bawah. Just so you know di puncak Gunung Api Banda masih terjangkau sinyal 4G. Not bad at all!


Banda Neira dari Gunung Api Banda. Terlihat runway bandara membelah pulau.

Cuaca tidak semakin baik. Kabut masih menyelimuti puncak. Dan anginnya kencang sekali. Tapi keren sih, seenggaknya sudah sampai sini, nggak rugi lah. Akhirnya kami turun. Perjalanan saat turun lebih seru karena terasa sekali medannya yang licin. Sering kami sengaja perosotan karena jalan setepak yang penuh dengan kerikil dan pasir. 

Kami berhenti sejenak, melihat pemandangan di bawah. Kota Banda Neira terlihat seluruhnya, mulai kawasan pelabuhan sampai bandara, tak ketinggalan Benteng Bélgica terlihat keabuan, kokoh dan menjadi bangunan paling menonjol di pulau itu.

Kalau main ke Maluku atau Indonesia bagian timur, Banda Neira bisa jadi salah satu tempat yang wajib dikunjungi. Buat yang suka sejarah pasti akan terkesan dengan setiap sisi di pulau kecil itu yang memiliki nilai historis. Buat yang suka mendaki, tinggal lompat saja dan naik ke Gunung Api. Buat yang suka menyelam, just set up your dive gear and get down. 

 It was fun!




Share:

Cerita Dari Banda Neira

benteng, belgica, banda neira, sejarah, belanda, portugis
Benteng Belgica dengan latar belakang langit sore di Gunung Api Banda

               

Apa yang terlintas ketika mendengar Banda Neira? Yup. Pasti sebagian merujuk ke "Oh, yang udah bubar itu ya?" Atau mungkin masih menerka-nerka itu apa. 

Pada pertengahan Juni 2019 saya melakukan perjalanan ke Banda Neira di Maluku. Banda Neira adalah salah satu pulau yang berada di Kepulauan Banda, Maluku. Pulau ini terkenal dengan pala, sejenis rempah yang menjadi komoditas paling berharga pada abad ke-16. Terdapat tiga pulau utama di sini, yakni Banda Neira, Banda Besar dan Banda Api. Letaknya pun saling berdekatan. 

Apa saja sih yang ada di tiga pulau itu?

Di Banda Neira kita bisa menikmati suasana kota dan pelabuhan. Di sini terdapat banyak sekali bangunan peninggalan Belanda. Mulai banteng sampai gereja. Di Banda Besar terdapat desa Lonthoir dan perkebunan rempah-rempah. Sedang Banda Api adalah pulau vulkanik Gunung Api Banda. Untuk yang hobi menyelam, banyak dive spot di sekitar Kepulauan Banda. Yang terkenal adalah dive spot di mana kita bisa melihat hummerhead shark (hiu kepala martil), yang bentuk kepalanya pipih dan ada mata di kedua ujungnya itu.

Waktu berkunjung.

Paling bagus waktu berkunjung adalah akhir tahun sampai dengan bulan April-Mei. Pada kurun waktu ini banyak pengunjung terutama dari kapal pesiar dan catamaran singgah. Periode awal Juni-September cuaca dipengaruhi oleh angin timur, seringkali ombak dan hujan intensitas tinggi pada bulan-bulan tersebut. Ada kesamaan antara wilayah ini dengan Papua Barat dalam hal musim yang bagus dan tidak bagus.

Akses ke sana? 

  • Dari Ambon bisa naik pesawat Susi Air. Pastikan selalu tanya jadwal dari dan ke Banda Neira.
  • Naik kapal cepat dari Ambon (Tulehu), akan memakan waktu sekitar 6 jam.
  • Naik kapal kapal perintis atau kapal Pelni yang besar. Bisa dicheck jadwal pergi pulangnya.
  • Dari Papua Barat bisa naik kapal Pelni, nanti akan ikut rute Dobo, Kota Tual, Banda Neira. 

Pastikan periksa semua jadwal untuk berangkat dan pulang, karena kepulauan ini berada di tengah-tengah laut Banda, dan tidak sering ada jadwal kapal / pesawat.

Akomodasi

Terdapat beberapa penginapan, juga dive center untuk yang hobi menyelam. Harga penginapan per malam sekitar Rp200,000 sudah termasuk sarapan (biasanya nasi kuning + cakalang bumbu, atau pancake. Basic), dan kamarnya luas. Saya menginap di Delfika guest house yang merupakan bangunan kuno, namun penuh dengan benda-benda hiasan yang bikin betah berlama-lama di sana. 

Benteng Belgica dengan background Gunung Api Banda yang ada di uang pecahan Rp1,000. Sumber: ranggainthezone

Keliling Pulau

Hampir semua tempat di Banda Neira bisa dijangkau dengan jalan kaki, dan gratis, kecuali untuk Rumah Budaya dan Benteng Belgica. Berikut beberapa tempat yang saya datangi.

  • Rumah Budaya Banda Neira yang berada persis di depan tempat saya menginap. Di sini terdapat barang-barang asli jaman VOC dan catatan sejarah kehidupan jaman Belanda. Yang paling menarik adalah sejarah kelam pembantaian masyarakat Banda Neira oleh penjajah pada abad ketujuh belas. Ada juga lukisan Jan Pieterzoon Coen, Gubernur Jenderal VOC pada saat itu. Selain itu, ada juga koin-koin kuno dan gramophone yang menurutku super dope. Tempat ini cukup terawat, meskipun ada bau debu dan lukisan-lukisan itu yang—jujur saja—membuatku takut. Tiket masuknya adalah Rp20.000 per orang.
  • Gereja Tua Banda. Gereja ini dibangun pada tahun 1873. Ketika sampai dan lihat lantainya, I was like Lantainya unik ya karena ada tulisan-tulisan kuno. Namun setelah diberitahu bahwa tulisan-tulisan di atas plat itu ternyata kuburan, I was like Really? Ternyata gereja ini dibangun di atas tiga puluh kuburan prajurit Belanda yang tewas berperang untuk menguasai Banda. Pulau ini benar-benar menarik. 
  • Istana Mini. Bangunan ini dibangun pada tahun 1622 dan menjadi tempat gubernur jenderal. Dari luar bangunan ini terlihat seperti Istana Negara di Jakarta, cuma lebih kecil sesuai namanya. Di dalam hanya ada ruangan kosong seperti aula, lubang meriam di ujung aula dan ruangan-ruangan di sisi kanan kiri. Sempat kepikiran Kalo ada teman yang indigo ke sini, pasti dia sibuk sekali. Haha. 
  • Setelah itu saya lanjut ke rumah pengasingan Bung Hatta pada tahun 1936. Sayang sekali saat itu tempatnya ditutup, jadi aku lanjut ke Parigi Rante, sebuah sumur. Di tempat ini ada daftar 40 orang Banda yang jatuhi hukuman mati pada era VOC. Aku terdiam beberapa saat setelah membaca tulisan di tugu itu dan mendoakan mereka yang telah gugur.  
  • Mercusuar di Lautaka, ujung Pulau Banda Neira. Mercusuar ini seperti menara SUTET, dan tidak disarankan bagi yang akrofobia (takut ketinggian). Tinggi mercusuar ini sekitar 30-40 meter. Agak gemetar saat naik, ada sensasi goyang karena hembusan angin, but it paid off! Pemandangan dari atas mercusuar bagus sekali! Bentangan bukit menuju kota di sebelah kiri di kejauhan dan lautan lepas di sebelah kanan, dan di depan adalah Gunung Api Banda yang berdiri digdaya di seberang. Seriuosly, it paid off!
Mercusuar Lautaka, Banda Neira. Sumber: koleksi pribadi

Yang paling terkenal di antara peninggalan kolonial di pulau ini adalah Benteng Belgica. ikon yang menjadi gambar di uang pecahan seribu rupiah. Bangunan ini awalnya dibangun oleh bangsa Portugis di abad ke-16, dan dilanjutkan oleh Belanda pada abad ke-17. Berada di sini berasa seperti di Casterly Rock di Game of Thrones, karena berada di atas bukit (30 meter di atas permukaan laut) dan bisa melihat pemandangan laut, Gunung Api Banda dan matahari sore. Indah sekali. Saya naik ke salah satu menara banteng—hati-hati saat naik tangga karena bisa jadi kejedot tembok, sakit sekali—dan foto uang seribuan dengan background banteng yang berbentuk segilima dan Gunung Api. Tidak ada tiket masuk, namun kotak kontribusi tersedia di dalam bangunan.

Untuk makanan sendiri di sini cukup terjangkau, kisaran Rp15,000 per porsi. Setiap ada kapal Pelni bersandar, kawasan pelabuhan berubah menjadi pasar yang penuh dengan orang yang menjual dagangan mereka. Jadi ini saat paling tepat untuk menikmati makanan khas Banda Neira dan berburu oleh-oleh dan hal unik yang bisa ditemukan. Beberapa hal yang saya coba adalah:

  • Suami. Ya, namanya suami. Bukan suami orang ya, guys. Suami adalah makanan khas terbuat dari singkong parut yang dikukus dan berbentuk kerucut. Rasanya hambar maybe because they barely added some sugar in it or that's the taste of cassava. Harganya Rp 2,000 per buah dan besar. Paling enak makan suami dengan kuah ikan, karena lebih mudah ditelan dan ada rasanya. 
  • Mento, kue yang berbentuk seperti dadar gulung tapi isinya suwiran cakalang dan sayuran. Kalau biasanya dadar gulung isinya kelapa manis, this one is savory.
  • Ulang-ulang. Makanan ini seperti salad atau karedok(?), suka sekali karena basically saya suka sayuran. Plus ada rasa asam-asamnya. It's really good.
  • Ikan komu asar, yakni ikan cakalang yang dipanggang. Biasanya ditusuk dengan bambu. Saya beli makanan ini saat baru tiba di pelabuhan Banda Neira. Makanan ini besar sekali untuk porsi saya, kata ibunya paling enak dimakan dengan sambal, but I had it plain karena aroma dan rasa daging cakalang yang sudah enak. Akhirnya saya makan dengan suami. 
  • Olahan pala, mulai selai pala, manisan pala, ikan pala (kuah ikan ada campuran palanya), dan kopi pala. Ada juga rempah-rempahnya kering seperti kayu manis, biji pala dan bunga pala kering yang bisa dibeli sebagai oleh-oleh.
  • Akar bahar. It's common for us to see it in Maluku and Papua. Saya masih bingung sebenarnya akar bahar ini tanaman atau hewan laut. "Akar" ini sangat kuat (risilient), dan bisa dibengkokkan sesuai keinginan kita. Biasanya dijadikan gelang. Di Banda Neira dijual dengan harga mulai Rp100,000 per buah. Saya sendiri tidak membelinya karena saya punya beberapa yang dibawa langsung dari Papua, dan saya kasih ke teman-teman.

Share:

Mengenal Budaya Banjar Di Pasar Terapung Lok Baintan Banjarmasin

Pasar Terapung Lok Baintan, Kalimantan Selatan. 
Sumber: ranggainthezone


Generasi 90an mungkin masih ingat slogan RCTI Oke yang menampilkan ibu-ibu di pasar terapung. Waktu kecil saya bertanya-tanya kok bisa ya jualan di atas perahu di atas sungai, karena maklum di Jawa tidak ada sungai yang besar. Rasa penasaran terjawab ketika mengunjungi Pasar Terapung Lok Baintan di Kalimantan Selatan. 

Pasar terapung ini berlokasi di daerah aliran Sungai Martapura, Banjarmasin, dan satu-satunya pasar terapung yang genuine yang ada di Indonesia. Mungkin ada yang bilang "Siapa bilang? Di Sumatra juga ada, di Jawa Barat juga ada." Ya, itu juga pasar terapung tapi itu artificial. Sedangkan pasar Lok Baintan sudah ada sejak jaman Kesultanan Banjar (sekitar abad ketujuh belas). Itu saja? Tentu tidak. Pasar terapung di Lok Baintan sebagai bentuk budaya masyarakat Banjar yang tidak lepas dari air / sungai. Dulu sebelum adanya pembangunan transportasi darat, masyarakat Banjar mengandalkan sungai untuk mendukung mobilitas mereka, yang pada akhirnya mendukung perekonomian mereka dengan adanya interaksi jual beli dan barter oleh masyarakat. 

Sekarang emang sudah nggak lagi? Masih bertahan, walaupun sebagian besar mulai beralih ke pasar tradisional pada umumnya. Namun, dari pasar terapung ini kita bisa mengenal lebih banyak budaya Banjar. Apa aja emang? Nanti. Pero un momento, por favor, ada hal teknis yang perlu dijelaskan.

Lokasi Dan Waktu Berkunjung

Pasar ini terletak di Sungai Martapura, Banjarmasin. Waktu berkunjung di pagi hari, setelah subuh sampai menjelang siang sekitar jam 10:00 WITA.

Akses Ke Lok Baintan

Ada beberapa pilihan untuk pergi ke sana. Ini berdasarkan pengalaman kami (2 orang).

  1. Sewa klotok (perahu bermotor) yang bisa dijumpai di Siring Tendean, Banjarmasin. Harga Rp 400,000 an. Akan sedikit menguras kantong kalau pergi sendiri atau berdua. Selain itu harus cari tempat penginapan yang dekat dengan Siring Tendean karena harus berangkat pagi sekali. Otherwise you have to hire a taxi. Share cost kisaran @Rp300,000 / orang untuk sewa klotok dan penginapan.
  2. Menginap di Swiss-Belhotel Banjarmasin. Akhirnya pilihan kami jatuh ke sini. Hotel ini menyediakan fasilitas trip ke Lok Baintan secara gratis untuk tamu yang menginap. Share cost juga hampir sama, plus nggak repot. Bisa minta wake-up call, dan tinggal jalan ke depan untuk naik klotok. Hotel ini berada di pinggir aliran Sungai Martapura anyway. Disclaimer: ini bukan endorsement ya, simply for sharing information based on our experience. Dan kebijakan ini bisa berubah tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Atau mungkin ada banyak opsi serupa yang bisa dicari di internet, based on your preference.
  3. Lewat darat dengan naik motor. Tinggal ikuti aja peta Google et...voilà! Selain itu, kalau lewat darat bisa sekalian ambil foto dari atas jembatan Lok Baintan.

Rumah Lanting terlihat mengapung sepanjang Sungai Martapura. Sumber: koleksi pribadi.

The experience starts here.

Kami berangkat pukul 05:00 WITA dengan naik klotok. Perjalanan ditempuh selama 30-40 menit. Karena masih gelap, tidak banyak yang bisa dilihat sepanjang sungai. Namun, saat langit semakin terang, pemandangan sekitar mulai tampak. 

Rumah-rumah khas Banjar berdiri di kiri-kanan tepi sungai. Ada satu yang menarik perhatian, yakni rumah lanting. Rumah ini adalah rumah terapung yang dibuat untuk bisa berpindah-pindah mengikuti atau menyesuaikan arus sungai. Jika rumah adat Banjar kita bisa melihat jelas tiang penyangga yang menancap di sungai, hal itu tidak berlaku dengan rumah lanting yang terlihat pres dengan permukaan sungai. Seperti hanyut. Rumah ini seperti portable house yang mobile. Kalau di Kaimana ada bagan yang berfungsi sebagai rumah sekaligus tempat menangkap ikan, hanya saja bagan di laut dan memiliki ukuran lebih besar daripada rumah lanting.

Banyak sekali jembatan penyebrangan di atas sungai yang bisa dilihat dari klotok. Aktivitas pagi masyarakat Banjarmasin bisa kita lihat di sini. Kita bisa melihat matahari terbit dari atas klotok, warna jingga yang terpantulkan aliran sungai.

Suasana sangat vibrant ketika sampai di Lok Baintan. Banyak jukung yang berlalu lalang. Jukung adalah perahu kecil yang digunakan oleh para penjual untuk menjajakan dagangannya. Mayoritas penjual di sini adalah ibu-ibu, orang lokal menyebutnya acil. Mereka biasanya memakai tanggui, topi khas Banjar yang terbuat dari daun nipah. 

Saat melihat para acil, kami bertanya-tanya kenapa wajah mereka tertutup bedak tebal seperti masker yang dibiarkan mengering atau lupa dibilas. Ternyata sebagian masyarakat di sini terbiasa memakai bedak khas Banjar yang dinamakan pupur (bedak) basah / pupur dingin dan pupur bangkal. Pupur basah terbuat dari beras yang dihaluskan, dan ada juga dari bengkoang. Bedak ini berwarna putih. Sedangkan pupur bangkal terbuat dari kayu pohon bangkal yang dikerik lalu ditumbuk. Bedak ini berwarna kekuningan.

Di pasar ini, mereka umumnya menjual buah-buahan musiman, dan tidak jarang buah khas Kalimantan seperti buah mentega, kasturi, kuweni (sejenis mangga tapi aromanya sangat harum), buah kapul, tiwadak, salak, duku / langsep dan masih banyak lagi. Ada juga jajanan tradisional seperti kue cincin (seperti cucur tapi memiliki tekstur keras dan kering di bagian dalam, serta berbentuk piringan dengan 4 lubang), roti pisang (seperti kue lumpur tapi berbahan pisang. Jujur ini enak banget!), untuk (roti goreng ada isiannya), pais, dan masih banyak lagi. Bahkan ada yang jual pulsa! Seriously!



Pedagang dengan aneka buah di atas jukung. Sumber: ranggainthezone


Selain itu banyak makanan kering dan souvernir yang bisa dijumpai di sini, di atas jukung tentunya. Beberapa dibungkus dengan kerajinan tas dari purun, yakni sejenis tanaman yang digunakan sebagai bahan anyaman. 

Kalau ingin makan nasi, bisa juga beli nasi kuning bumbu habang (merah) dengan hintalu (telur) atau ikan. FYI, beras Banjar berbeda dengan beras yang biasa digunakan di Jawa. Beras Banjar lebih "terpisah-pisah" dan seringkali bagi orang yang baru pertama kali memakannya kadang terasa "nyereti". Kita bisa sarapan di atas klotok sambil menikmati suasana pasar terapung. Atau bisa juga mencoba naik jukung penjual, tapi harus hati-hati karena perahunya hanya selebar badan dan butuh keseimbangan agar tidak oleng. 

Di sini kita juga mengenal akad jual-beli. Pedagang akan menyebutkan kata “jual /dijual” dan pembeli akan menyahut dengan kata “tukar/ditukar” yang berarti membeli saat transaksi dilakukan (sempat bingung saat belum tahu arti tukar adalah beli kalau di Banjarmasin). Kalau masih bingung nanti akan dibimbing oleh acil penjual. 

Budaya akad jual-beli tidak lepas dari pengaruh agama Islam yang diajarkan oleh Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (1710-1812 M) melalui kitabnya, Sabilal Muhtadin. Akad itu lambang sahnya jual-beli. Kalau sekarang mungkin seperti yang sering diucapkan di acara televisi itu. Deal? Deal!

Yang unik lainnya dari pasar terapung Lok Baintan adalah adanya acil bapantun, yakni ibu-ibu yang pandai sekali berpantun. Entah dilatih atau spontan, pantun-pantun itu bisa menyesuaikan dengan konteks obrolan. Mungkin Denny Cagur dan Raffi Ahmad belajar berpantun dari mereka. 

Para pengunjung bisa naik ke atap perahu untuk mengambil gambar karena pemandangan lebih luas. Mungkin tidak banyak yang indah dalam hal pemandangan bagus seperti di tempat-tempat wisata lainnya dengan bangunan ikonik, tapi keberadaan pasar ini sendiri sudah menjadi ikon dengan segala nilai sejarah dan budaya masyarakat yang menjalankan keseharian di sini. This place is not artificial, if you're looking for something more than fancy. Dan itu cukup worth to visit jika berkunjung ke Banjarmasin, mengenal budaya Banjar lewat pasar terapung dengan naik kapal menyusuri sungai Martapura. 




Referensi
Pasar Terapung Lok Baintan
http://pidii.info/index.php?option=com_content&view=article&id=900:pasar-terapung-lok-baintan&catid=35:investasi-news&Itemid=101?&tmpl=component#:~:text=Pasar%20Terapung%20Lok%20Baintan%20telah,Pemerintah%20Pusat%20Banjarmasin%2C%20Kalimantan%20Selatan.&text=Di%20sepanjang%20pesisir%20aliran%20Sungai%20Martapura%20Lokbaintan%20terlihat%20konvoi%20jukung,Banjar)%20menuju%20lokasi%20pasar%20terapung.

Bedak Bangkal, Bedak Tradisional Banjar Khas Kalimantan Selatan Kebanyakan Pembelinya Orang Jawa

Rumah Lanting: Kilas Kronologi Dan Eksistensinya Saat Ini

Share:

Lobo: Desa Terindah Di Papua Barat


Gunung Emansiri yang menjadi tempat tinggal Garuda. Sumber: ranggainthezone

Desa itu bernama Lobo yang berada di kawasan Teluk Triton, Kabupaten Kaimana, Papua Barat. Bukan tanpa alasan kenapa saya bilang mengapa Lobo menjadi desa terindah sekaligus salah satu tempat terindah yang pernah saya kunjungi.


Lokasi Di Teluk Triton

Letak desa Lobo berada masuk ke Teluk Triton, yang menawarkan perairan yang tenang, meskipun di pertengahan tahun cuaca buruk karena pengaruh angin dari Australia. Desa ini bisa ditempuh dari Kaimana dengan boat selama kurang lebih 90 menit. Sementara ini hanya boat alat transportasi yang paling tepat untuk ke sana. Namun, beberapa tahun terakhir dibangun jalan darat yang menghubungkan Lobo dengan Kaimana. 

Teluk Triton adalah salah satu kawasan konservasi di Kabupaten Kaimana. Kawasan ini kaya akan sumberdaya laut. Dalam perjalanan ke Lobo, kita bisa mampir melihat hiupaus di bagan, melihat ikan pari manta, kawanan lumba-lumba atau jika cukup beruntung paus Brydes yang muncul ke permukaan seakan menyambut siapa saja yang datang.

Desa Lobo memiliki penduduk ± 700 jiwa. Sebagian besar dari mereka bekerja menjadi nelayan, dan juga bertani. Sebagian besar penduduk beragama Kristen, sedangkan tenaga dari luar Papua yang bertugas di sana beragama Islam, seperti tenaga medis. 

Sisi-sisi desa bisa dijelajahi dalam waktu satu jam, dan bisa melihat pemandangan gunung Emansiri yang berdiri kokoh di belakang desa, untuk menjelajahi hutan Papua yang masih terjaga. Kegiatan pengamatan burung Cenderawasih bisa dilakukan dengan menyewa pemandu lokal. Namun, kurangnya informasi tentang bagaimana dan kapan untuk melakukan pengamatan burung menjadi kendala para pengunjung yang ingin melakukannya. 

Cerita Garuda Dari Lobo

Masyarakat Lobo percaya bahwa burung Garuda yang menjadi lambang negara berasal dari desa mereka. Seperti dikutip dari Antaranews, dulu terdapat dua telur yang menetaskan burung garuda berwarna hitam dan putih. Namun, yang berwarna putih tidak diketahui keberadaannya.

Burung garuda yang berwarna hitam itu kemudian tumbuh dewasa dan tetap tinggal di Gunung Warinau. Suatu hari, terjadi banjir di Sungai Urera yang menyebabkan banyak manusia tewas.

Bangkai manusia yang terbawa banjir itu menjadi makanan burung garuda. Dia mengikuti Sungai Urera sampai kemudian sampai ke Kampung Lobo.

Setelah bangkai manusia yang terbawa banjir habis, burung garuda itu kemudian tinggal di Gunung Emansiri. Kampung Lobo terletak di kaki gunung tersebut.

Karena tidak ada lagi bangkai manusia yang bisa dimakan, burung garuda itu kemudian mulai memangsa penduduk Kampung Lobo. Penduduk Kampung Lobo menjadi resah dan takut dimangsa burung garuda.

Hingga suatu ketika, datang orang Portugis di Kampung Lobo. Orang Portugis itu kemudian menembak jatuh burung garuda. Bangkainya jatuh di bukit yang berbatasan langsung dengan tebing di pantai.

Penduduk Kampung Lobo pun bersuka ria dengan tewasnya burung garuda. Di tempat burung garuda itu jatuh, kemudian dibangun tugu dengan patung garuda di puncaknya.

Cerita tentang burung garuda itu tidak hanya berbekas di benak masyarakat Kampung Lobo, tetapi juga masyarakat Kabupaten Kaimana lainnya. Burung garuda kemudian juga diambil sebagai lambang Kabupaten Kaimana.

Jejak Belanda

Dulu di desa ini pernah dibangun benteng oleh Belanda. Mereka pertama kali datang ke Lobo pada tahun 1828, lebih awal dari kedatangan Belanda di Timika. Namun, sebagian dari mereka meninggal, menurut cerita masyarakat desa karena terkena malaria. 


Tugu peninggalan Belanda di Lobo. Sumber: ranggainthezone

Di salah satu sudut desa terdapat tugu untuk memperingati tentara Belanda yang tewas di Lobo. Pada tugu terukir "Ter Herinnering Aan de Overleden Militairen van de Bezetting van Fort du Bus" yang artinya kurang lebih adalah "mengenang para tentara yang meninggal di Benteng du Bus".

Bentang alam, lokasi dan sentuhan cerita rakyat dan fakta sejarah membuat desa ini memiliki nilai yang bisa menjadi alasan bagi orang-orang untuk berkunjung. Tentunya, desa terindah ini hanya pendapat pribadi dengan parameter subjektif. Namun, dengan apa yang ditawarkan, it's really not bad to pay a visit and have some moments here.



Referensi:
Kisah Garuda Dari Kampung Lobo Di Kaimana
https://m.antaranews.com/berita/564670/kisah-garuda-dari-kampung-lobo-di-kaimana
Share: