Here We Go, Labuan Bajo!

Apa yang bisa dilihat dari puncak Pulau Padar. Damn good! Sumber: ranggainthezone

Labuan Bajo adalah salah satu tempat yang paling ingin kukunjungi, setidaknya sekali seumur hidup. Bukan tanpa alasan kenapa tempat ini begitu menarik. Selain Komodo dragon, pemandangan alam yang level keindahannya mendekati unreal membuatku semakin yakin harus mengunjungi tempat ini.

Starting point-ku untuk ke Labuan Bajo adalah di Kota Makassar. Setelah puas jelajah kota terbesar di Pulau Sulawesi ini, aku ingin melanjutkan ke Labuan Bajo. Saat itu adalah awal Juli 2018. Mulai lah cek harga transportasi ke sana. Aku buka aplikasi pemesanan tiket—yang logonya suka bikin salah pencet ketika kita mau buka aplikasi cuitan, tahu kan maksudku?—dan cek penerbangan Makassar – Labuan Bajo. 

Harganya mahal, setidaknya buatku, karena memang pesawat harus transit terlebih dahulu, entah di Bali atau Jakarta. Akhirnya kuputuskan untuk naik kapal laut aja, kapal Pelni. Aku pesan online dan keesokan harinya aku ke kantor perwakilan Pelni untuk mengambil tiket. Harganya? Rp176,500. Murah, kan? Jadwal kapal laut dari Makassar ke Labuan Bajo ada setiap lima hari, sedangkan untuk kembali ke Makassar bisa juga naik kapal laut. Jadi ini sangat cocok kalau punyak waktu luang / cuti yang panjang namun budget terbatas. Tinggal cocokin jadwal kapal untuk pergi dan pulangnya. So, let’s go!

Aku berjalan menyusuri Jalan Penghibur dari penginapan menuju pelabuhan. Jalanan ramai di malam hari. Aku bakal kangen dengan pisang epe’ yang tumpah ruah di sini, kangen dengan buroncong (kue seperti pukis tapi ada parutan kelapa di adonannya. Enak banget!) di pagi hari, serta jalang kote dan lumpia di waktu sore.

Aku tiba di pelabuhan Makassar jam 9 malam karena kapal berangkat jam 11 malam dan penumpang harus berada di pelabuhan dua jam sebelumnya. Anyway, pelabuhannya modern dan nyaman, nggak salah kalau kota ini menjadi hub di Indonesia timur. Perjalanan akan ditempuh sekitar 19 jam. Jadi akan sampai Labuan Bajo pada jam 6 sore besoknya.

Sedikit info nih, karena di kapal tidak ada pembagian kelas seperti ekonomi, bisnis, eksekutif (semua dipukul rata jadi ekonomi) maka jika ingin mendapatkan kenyamanan selama perjalanan, kita bisa sewa kabin. Harganya tergantung negosiasi. Cincai lah. Nanti ada 2 atau 3 orang penumpang yang berbagi kamar dengan kita. It’s not really bad karena ada tempat tidur, colokan listrik, televisi (gambarnya seperti semut, maklum di tengah lautan) dan kamar mandi di dalam kabin. 


Sunset di pelabuhan Labuan Bajo


Kapal tiba di Labuan Bajo pukul 6 sore, tepat sebelum matahari terbenam. Indah sekali. Kapal-kapal bersandar berlatar sinar matahari sore berwarna keemasan. Aku berjalan menuju penginapan. Anyway, saat itu pembangunan jalan dan beberapa proyek sedang berlangsung, jadi jalanannya berdebu. Banyak sekali tempat menginap di sini, mulai yang murah sampai resort / hotel berbintang. Aku menginap di penginapan seharga Rp116,000 per malam, dengan bunk bed di kamar berkapasitas 10 orang, dan sepertinya aku satu-satunya tamu lokal di kamar itu. 

Malamnya aku pergi ke Kampung Ujung, sebuah area dekat pelabuhan yang menjual berbagai makanan, mulai nasi goreng sampai seafood. Selesai makan, aku pergi ke agen wisata yang menyediakan paket island hopping ke pulau-pulau di kawasan Taman Nasional Komodo.

Aku memilih paket 1-day tour seharga Rp450,000 per orang, sudah termasuk makan siang, kopi / teh dan snack. Namun, tidak termasuk harga tiket masuk ke Loh Buaya di Pulau Rinca yakni Rp90,000 per orang untuk wisatawan lokal. Ada 4 tempat yang akan dikunjungi, yakni Pulau Padar, Loh Buaya di Pulau Rinca, Pantai Manjarite dan terakhir adalah Pulau Kelor. Ini adalah open trip, jadi nanti aku akan bergabung dengan para wisatawan lainnya. Tidak lupa aku membawa air mineral tambahan dan sunscreen karena cuaca akan sangat panjang.

Keesokan harinya jam 5.30 pagi rombongan berangkat dari pelabuhan menuju tempat pertama dan terjauh yakni Pulau Padar. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih 4 jam. Ada sekitar 12 wisatawan di kapal, sebagian besar dari Eropa dan hanya aku wisatawan lokal. Sepanjang perjalanan ke Pulau Padar, kami menghabiskan waktu, ada yang tidur di atas atap kapal, ngobrol ngalor ngidul dan ada juga yang menikmati pemandangan. 


How long is your trip?” tanyaku ke orang Jerman, simply karena yang lain berbicara bahasa-bahasa negara Eropa lainnya dan aku tidak mengerti.

“Two years. But I have two months left.” Jawabnya santai. Jadi dia punya waktu dua tahun untuk travelling. Dia sudah menjelajahi Amerika Selatan, Eropa, India dan Asia Tenggara. Sekarang tinggal 2 bulan lagi waktu liburannya. 

“Liburan 2 tahun. Gila ini orang,” batinku. Ini yang paling kusuka saat solo travelling, bisa ketemu orang-orang baru dan berbagi cerita dan pengalaman. Sekaligus termotivasi.

Tak terasa kami sampai di Pulau Padar. Ini adalah pulau terbesar ketiga di kawasan Taman Nasional Komodo setelah Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Kami langsung menaiki bukit untuk melihat keindahan dari puncak. Tak terhitung berapa ratus tangga menuju ke sana, dan di bawah terik matahari membuat siapa saja merasa antara semangat dan putus asa. Namun semua terbayar setelah sampai puncak.

Teluk-teluk berbentuk hampir setengah lingkaran berada di sisi kiri-kanan pulau, seakan membelah dan menyisakan sedikit bukit batuan di antara teluk yang membelakangi satu sama lain. Tak berhenti di situ, karena bukit di antara teluk-teluk itu berakhir dengan gunung terjal yang ditutupi sabana kering berwarna coklat keemasan di ujung pulau. Pemandangan ini seakan membawaku kembali ke jaman Jura ratusan juta tahun yang lalu. Membayangkan pterodactyl terbang di atas pulau, stegosaurus di tengah padang rumput, brontosaurus menyusuri teluk, wah, keren sekali.


The dragons being "mager"

Puas dengan Pulau Padar, kami menuju Loh Buaya di Pulau Rinca. Di sini adalah tempat hidup komodo selain di Pulau Komodo, tentunya. Kami langsung melakukan registrasi dan membayar tiket masuk (usahakan untuk membawa uang pas agar registrasi lancar). Setelah itu, rombongan akan didampingi ranger, sebutan untuk pemandu di sini. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, seperti orang yang sedang menstruasi / ada luka dilarang berkunjung ke sini, dilarang berjalan sendirian apalagi melewati batas “no trespassing” (dilarang melewati batas ini), dan pastinya dilarang mendekati komodo.

Ada 3 komodo dewasa yang sedang “mager”. Semua antusias ingin mengabadikan moment dengan berfoto yang seakan-akan mereka berada di belakang reptil purba tersebut. Namun keadaan berubah ketika tiba-tiba ada komodo besar lainnya datang dan perkelahian pun terjadi. Suara komodo seperti desisan ular namun jauh lebih keras dan kuat. Setelah adegan dua menitan itu, ranger bertanya kepada pengunjung apakah ada lagi yang mau “selfie” dengan komodo. Dan semua kompak bilang “Tidak, terima kasih!” 

Perjalanan dilanjutkan dengan short trekking di sekitar Loh Buaya. Di sini lingkungannya tandus, namun pohon-pohon lontar yang menjulang membuat landscape sedikit lebih hidup. Ranger menjelaskan tentang kehidupan reptil yang memiliki nama ilmiah Varanus komodoensis itu. Mulai bagaimana mereka “merampas” sarang burung (lubang di tanah) untuk menempatkan telur-telur mereka sampai sifat kanibalisme di antara mereka. Hidup ini keras, bro!

Selanjutnya kami menuju Pantai Manjarite. Ini adalah tempat snorkelling yang bagus. Airnya jernih dan terumbu karangnya luas sekali. Aku menyempatkan untuk berenang beberapa saat, setelah itu istirahat di jetty dengan latar belakang pemandangan bukit yang sangat indah. Singkat saja waktu yang dihabiskan di sini karena banyak kapal yang antre. Kami melanjutkan ke tempat terakhir, yakni Pulau Kelor. 

Pulau Kelor adalah pulau kecil dengan bukit terjal yang menjadi persinggahan kapal sebelum kembali ke Labuan Bajo. Kami berpencar. Ada yang duduk-duduk di pantai, berenang, foto-foto pemandangan atau sekedar bersantai minum kelapa muda. Aku membeli kelapa muda seharga Rp25,000. Aku mendaki bukit karena sepertinya tidak terlalu tinggi. Memang tidak terlalu tinggi sih, namun kemiringan yang terjal dan tanah kering justru licin membuat pendakian sangat menantang. Ditambah satu tangan memegang kelapa muda, uh, kekar lenganku. Namun, saat sampai di atas, pemandangannya bagus sekali! 

Gradasi warna mulai pasir putih bersambung dengan warna air laut yang biru toska dan semakin jauh semakin gelap warna birunya. Tidak berhenti di situ, di seberang terlihat gugusan perbukitan berbentuk segitiga dengan warna hijau dari vegetasi di bawah bukit, dan cokelat terang dan abu-abu menutupi lereng hingga puncak bukit. Perahu yang berlalu-lalang menambah suasana menjadi vibrant. Tak ingin menyianyiakan momen, aku mengambil foto dari puncak bukit. Aku mengambil foto kelapa muda dengan pemandangan tersebut.

Kami sampai di Labuhan Bajo sekitar pukul 6 sore. Tidak terasa lelah karena masih larut dalam perasaan takjub dengan apa yang kulihat selama island hopping. Mengunjungi pulau-pulau di Taman Nasional Komodo dan melihat langsung komodo adalah pengalaman yang sangat berharga. Memang belum bisa mengunjungi tempat-tempat lain di sekitarnya seperti Pulau Komodo, Pink Beach, Gili Lawa Darat, Manta Point dan masih banyak lainnya, namun tetap saja, ini sangat berkesan. Dan Labuan Bajo sepertinya bukan tempat yang wajib dikunjungi sekali seumur hidup, karena aku pasti akan kembali melihat keindahan di sana. Semoga.






Tulisan ini pernah dimuat di RedDoorz blog dengan judul "Labuan Bajo, Let's Go!" (https://www.reddoorz.com/blog/id/places-to-visit/labuan-bajo-let-s-go) namun ada penambahan informasi oleh penulis di sini.











Share:

Love Hurts In The End

Aku pernah memasukkan kalimat itu ke dalam lyrics lagu yang kutulis beberapa bulan yang lalu. Lebih tepatnya "Love pleases but then hurts in the end". Mungkin ada yang bertanya mengapa aku tiba-tiba menulis tentang itu? Well...


Cinta. C I N T A. I don't like this 5-letter word. Tapi aku bersyukur pernah mengenalnya. Sering merasakannya. Menurutku, cinta adalah buah tangan Tuhan yang paling indah yang  pernah di build-in-kan  ke dalam jiwa setiap manusia. Banyak kejadian historis yang ujung-ujungnya jika kita drag penyebabnya romansa dua insan. Kisah Troy, misalnya. Bagaimana Helene jatuh cinta kepada Paris pada pandangan pertama (terlepas intrik dan intervensi cupid ato pihak-pihak lain yang tidak diharapkan).Mereka akhirnya kabur dari Yunani, dan, terjadilah perang. Kisah segitiga Romeo-Juliet-Paris yang berujung pada tewasnya mereka bertiga. Bukan hanya tragedi, namun, perdamaian tercipta juga karena cinta. Flower Generation, misalnya. Mereka yang anti Perang Vietnam begitu berperan dalam menyebarkan perdamaian lewat musik. Sebut saja The Beatles, The Rolling Stones, Big Brother and the Holding Company. Peristiwa di tahun 1960-an itu sangat berpengaruh terhadap musik, seni, fashion, bahkan politik yang mempromosikan perdamaian dan kebebasan, karena mereka mencintai perdamaian dan kebebasan. Cinta. Masih banyak lagi kisah cinta yang berperan dalam peradaban manusia. We are raised in it.


Aku percaya tidak ada yang gratis dalam kehidupan ini. Begitu pula dengan cinta. Ketika kita jatuh cinta, banyak hal yang tidak terasa telah kita korbankan. Mulai dari hal-hal yang tak kasat mata, semisal pikiran kita dan waktu. We keep thinking of someone we're in to, don't we? Padahal, instead of  thinking of it, kita bisa saja fokus ke hal-hal lainnya yang lebih urgent, seperti kuliah, pekerjaan, hobby. Sedangkan hal yang bersifat materiil yang secara tidak sadar kita korbankan lebih banyak lagi. Mulai dari hal-hal yang paling daily, seperti pulsa (we keep texting, trying to make a call, chatting, apps-ing, stalking, tweeting, ANYTHING! Just to keep in touch with them), hadiah, uang jalan, uang bensin, banyak sekali. Bukannya bermaksud menjadi sangat perhitungan. Tidak. Ini hanya deskripsi dan...sedikit elaborasi. Harap jangan miskonklusi. See? :)


Banyak hal yang kita lakukan demi mendapatkan cinta, memilikinya, menjaganya, atau sekedar--sok tegar--melepaskannya. Nah, di sinilah ambivalensi cinta bekerja. Mulai dari awal kita jatuh cinta, kita pasti merasakan perasaan bahagia, namun tidak sedikit pula rasa khawatir beradu. Love pleases but then hurts in the end


Ketika kita melakukan verbalisasi cinta kepada, let's say, target, perasaan khawatir dan bahagia benar-benar beradu. Mungkin kebahagiaan akan tetap ada dan bahkan semakin besar ketika cinta kita berbalas. Begitu juga sebaliknya. Putus asa, hampa, terluka, mencoba bahagia--meskipun sulit--kita rasakan ketika cinta kita hanya one side. Love pleases but then hurts in the end.


Ketika kita memasuki jenjang hubungan yang lebih serius, pacaran misalnya, ambivalensi cinta tetap bekerja. Perasaan cemburu, sayang yang berlebihan, posesif adalah contohnya. Mungkin kebahagiaan itu akan berlanjut. Namun, bisa saja tidak. Putus, misalnya. Entah karena memang sudah tidak ada kecocokan lagi, atau bosan, atau selingkuh, whatever. Love pleases but then hurts in the end.


Memasuki jenjang hubungan yang jauh lebih serius lagi, pertunangan atau pernikahan, tetap saja sama. Hubungan itu bisa langgeng sampai menjadi keluarga ideal, bahagia, dengan anak-cucu dan segala tetekbengeknya. Namun, bisa saja tidak. Perceraian, perselingkuhan--yang berujung pada perpisahan--misalnya. Kalaupun--kembali lagi ke keluarga bahagia--iya, tetap saja kematian juga yang ambil alih. It's all about time.  Love pleases but then hurts in the end.


Wajar kalau kita takut kehilangan. Wajar kita ingin selalu memiliki. Tapi, kita juga harus menyadari bahwa there's a price to pay, somehow, in this life, isn't it? Kehidupan terus berlanjut seiring berjalannya waktu. Let love colour our life journey. It's not that bad. Bahkan seperti kisah Romeo-Juliet-Paris sekalipun. It's not that bad. But one for sure: deal with it. That it is: Love pleases but then hurts in the end.



with love, as usual
Rangga
  

Share:

Swimming With Whalesharks In Kaimana, West Papua, Indonesia.

Look how massive the fish are!

Really? But they're gonna eat us alive.


Yes, we can swim with whalesharks, but they won't eat us alive, at least not until the end of the world. 

Talking about whaleshark, many people think that it's beast and human predator. But no. Instead, they're very kind and gentle animals. Fish, to be exact. Big fish. Biggest fish.

Whalesharks (latin: Rhyncodon typus) is the largest kind of shark and the largest fish we have on this planet. The reason why it's called whaleshark is because their massive body size that's like whales, and their diet which is plankton and small tiny fish, again, just like some of the whales.

So, are they shark or whales? Fish or mammals?

They're shark which makes them fish, and the biggest fish thanks to their gigantic size. We can see the differences between fish and mammals from its tails. Fish tails are vertical, and mammal tails are horizontal. And of course, fish use gills while mammals use lungs to breathe. That's why you'll never find a whaleshark with sprouts, of course it just makes no sense.

It lives and hangs around the tropical water. They love warmth. So Indonesia is one of the best places to reside. We can see them in Kaimana, West Papua and around Cenderawasih Bay. Other places we have a chance to see them are in Gorontalo, north coast of East Java, the Philippines, Maldives and other tropical waters. 

Now let's go to Kaimana to watch them.

The Bicary Bay area is where we can find them around. The best time to visit is from October to May. We don't recommend you to visit on June, July, or August as the weather is so hilarious, just bad. And no whaleshark at that time. The Bicary Bay can be reached from Kaimana by using longboat, and it takes around 1 hour. We gotta get up early as it comes up to the surface from 6-7 to and it swims back to depth when they're full.

Wait, we come when they're having breakfast? Let's just say yes.


How it looks like on the bagan

In Bicary Bay, there are bagans (fishing platform floating and guarded by fishermen, and it's like floating hut for fishing), and the whaleshark will come visit the bagans. Usually, they like half-residing near certain bagans where they can get small fish from the fishermen's nets. 


Once we arrive, we need to buy the baitfish the bagan men sell. It costs 250-400 thousand rupiahs per box. The bagan men will slowly throw the baitfish to the water to keep the giant on the surface while the visitors have quality time swimming, snorkeling or even diving. Or we can try to get up to the bagan and feed the fish from above, just be careful it's slippery as hell. If lucky, there are also free rider dolphins, marlins, giant trevally swimming around and grab the free food. It's feeding frenzy!


Note: 

Please brings lots of fresh water as it's long journey and it's hot. Human needs to stay hydrated. 

You can actually arrange your stay and trip by looking at info on www.tritonbaydivers.com












Share:

Berenang Dengan Hiupaus Di Kaimana, Papua Barat

Look how massive the fish are! sumber: ranggainthezone


Mendengar kata hiupaus pasti terbayang hewan yang besar dan menyeramkan karena bisa saja kita akan dimakan olehnya. Namun, banyak yang tidak mengira bahwa hewan ini sebenarnya adalah jenis hiu yang tidak akan memakan hewan besar termasuk manusia. 

Hiupaus atau whaleshark (nama latin Rhyncodon typus) merupakan hewan pemakan plankton dan merupakan jenis hiu terbesar sekaligus ikan terbesar di dunia, dengan panjang bisa mencapai 12 meter. Ikan ini dinamakan hiupaus karena ukuran tubunya yang sangat besar dan jenis makanan yang sama dengan paus. Tidak sedikit yang bingung apakah hiupaus itu hiu atau paus. Untuk membedakannya bisa dilihat dari ciri-ciri umum antara mamalia laut dan ikan, dengan melihat ekornya. Ikan memiliki ekor vertikal (tegak), sedangkan mamalia memiliki ekor horizontal (mendatar), misalnya paus, lumba-lumba. Selain itu, hiupaus bernafas menggunakan insang, tidak seperti paus dan lumba-lumba yang bernafas dengan paru-paru. 

Ikan yang dipanggil gurano oleh masyarakat Papua ini hidup di perairan tropis yang hangat. Jadi bisa dipastikan di Indonesia kita bisa melihat ikan ini. Salah satu yang terkenal adalah di Kaimana, Papua Barat dan kawasan Teluk Cenderawasih. Selain di dua tempat tersebut ada juga di Gorontalo dan pantai utara Jawa Timur (Situbondo dan sekitarnya). Kalau di luar negeri hiupaus teramati di daerah Filipina, Maladewa, dan daerah tropis lainnya. 


Now let's go to Kaimana to see them. 

Hiupaus biasanya berada di perairan Kaimana, lebih tepatnya di daerah Teluk Bicary. Bulan-bulan yang bagus untuk berkunjung adalah mulai Oktober hingga April di mana cuaca cerah dan laut teduh, hal yang sangat disukai oleh hewan ini. Perjalanan ke Teluk Bicary ditempuh selama satu jam dengan menggunakan longboat dari Kaimana. Disarankan untuk berangkat pagi sekali karena hiupaus biasanya akan ke permukaan sekitar pukul 7 pagi. 


Suasana di atas bagan. Sumber: Instagram

Di Teluk Bicari, seperti tempat-tempat di sekitarnya, terdapat bagan-bagan tempat hiupaus biasa mendekat untuk mencari makan. Bagan adalah sebuah platform mengambang di tengah laut yang digunakan untuk menangkap ikan menggunakan jaring. Jadi hiupaus akan berada di bagan-bagan tersebut (meskipun mereka cenderung menetap di salah satu atau dua bagan) untuk mendapatkan ikan-ikan kecil yang ikut terjaring oleh nelayan. 

Setelah sampai, kita beli umpan berupa ikan kecil yang nelayan bagan jual per box. Harganya bervariasi, bisa 250-300 ribu rupiah pee box-nya. Setelah semua siap, kita bisa terjun ke dalam air dan berenang, snorkeling atau bahkan menyelam dengan ikan raksasa tersebut. Tentunya harus dengan pemandu untuk aktivitas tersebut terutama menyelam. 

Nelayan akan melempar ikan-ikan kecil dalam box ke laut sedikit demi sedikit untuk memancing hiupaus agar tetap ke permukaan. Apabila beruntung, akan ada juga rombongan lumba-lumba dan ikan marlin yang menjadi free rider dan berebut umpan ikan. Bisa juga kita ikut memberikan umpan ikan dari atas bagan, namun hati-hati karena seringkali permukaan kayunya licin dan pengaruh ombak yang membuat bagan bergoyang setiap saat. 


Yang harus disiapkan:

* Baju renang / peralatan snorkeling 
* Sunscreen 
* Makanan dan airputih yang banyak untuk tetap terhidrasi.

Catatan:

Silahkan bertanya tentang harga sewa longboat, harga tergantung negosiasi.





Share:

Keindahan Namatota, Pulau Kecil Di Kaimana, Papua Barat

Pantai timur Pulau Namatota

Pulau Namatota terletak di sebelah tenggara kota Kaimana. Berjarak sekitar satu jam perjalanan dengan menggunakan longboat, pulau ini merupakan salah satu pulau yang menjadi bagian wilayah konservasi di Kaimana. Pulau ini terletak di bagian leher burung Pulau New Guinea dan berbatasan dengan laut Arafuru di sebelah barat, teluk Bicari di bagian utara dan timur, serta teluk Triton di sebelah selatan. 

Dulu Namatota adalah sebuah kerajaan. Berdasarkan sejarah, kerajaan di Papua berada di Semenanjung Bomberai dan Semenanjung Onin. Kerajaan Namatota atau juga dikenal Kerajaan Kowiai berada di Semenanjung Bomberai ini. Kerajaan Namatota tidak memiliki istana yang megah sebagaimana kerajaan lain pada umumnya. Namun, mereka memiliki sebuah Rumah Raja yang disebut sebagai Rumah Adat. Rumah Raja saat ini tidak lagi dihuni oleh raja tetapi hanya digunakan untuk menyimpan pernak-pernik atau assesoris raja-raja Namatota. Selain itu, yang bisa disaksikan dari sisa kerajaan ini adalah berupa makam keluarga yang terletak di samping masjid atau tepat berada di depan Rumah Raja.

Sebagian besar penduduk di pulau ini bekerja sebagai nelayan. Kekayaan laut di sekitar pulau memang tidak perlu diragukan lagi. Mereka menjual ikan hasil tangkapan ke pasar di Kaimana atau melalui perusahaan ikan yang berada tak jauh dari kampung Namatota. 

Beberapa tempat yang bagus untuk dikunjungi di sekitar pulau Namatota adalah kawasan Teluk Bicari di mana pengunjung bisa melihat mamalia laut seperti lumba-lumba dan paus Brydes. Selain itu perairan Teluk Triton yang memiliki pemandangan yang sangat bagus (di tulisan selanjutnya akan dibahas secara lebih rinci). Hal yang menjadi ikonik di pulau ini adalah jetty di sisi barat pulau, di mana Dion Wiyoko pernah berfoto untuk acara traveling terkenal sebuah stasiun TV. 

Pantai terkenal di sekitar Namatota adalah pantai Sangnus dan pantai panjang dengan hamparan pasir putih di seberang Namatota. Selain itu, hamparan pasir putih terbentang sepanjang pesisir barat pulau, yang berbatasan dengan bukit batuan di sisi dalam pulau. 

Waktu berkunjung terbaik adalah mulai bulan November sampai dengan April, saat musim Angin Barat. Pada waktu tersebut kita bisa menikmati laut yang teduh dan cuaca cerah. Bulan Juni-Agustus adalah puncak musim Angin Timur di mana cuaca buruk dan ombak besar sehingga akan sangat tidak nyaman untuk melakukan perjalanan. 

Share:

Kota Senja Kaimana, Papua Barat

Selama dua tahun saya di Kaimana, tidak ada perubahan yang dramatis dari kota kecil ini. Berbeda dengan kota-kota lain di nusantara, Kaimana dari sisi geografis berada cukup jauh dari kota besar terdekat, seperti Sorong atau Manokwari. Namun kota kecil ini sangat kaya akan budaya dengan bercampurnya latar belakang dari berbagai daerah, masyarakat lokal Papua, Makassar, Manado, Minahasa, Ambon, Jawa, Madura, Nusa Tenggara, budaya Cina dan Arab, semuanya hidup berdampingan di sini. 

Tidak ada hal fancy atau berbau metropolitan di sini. All is basic. Namun karena saya memang suka dengan tempat baru, orang-orang baru, nggak ada masalah. Now I'm going to show you some basic places in town. 

Pertama kita ke pasar Otsus. Salah satu tempat di mana kita bisa mengetahui keseharian masyarakat setempat, dan membaur adalah pasar tradisional. Tempat berniaga ini terletak antara Bandara Utarom dan Kota. Pasar ini terbagi dua, yakni pasar ikan yang berada persis di sebelah laut serta pasar sayur di seberangnya. Di pasar ikan terdapat banyak sekali jenis hasil laut, mulai cakalang, grouper, mubara (giant trevally), cumi-cumi, kerang dan tentunya kepiting Papua yang sangat terkenal itu. Dan harga kepitingnya murah, 8.000 - 12.000 rupiah per ekor. Dan besar. Selain itu ada daging seperti daging rusa dan babi. Di Kaimana jarang sekali tersedia daging sapi, karena memang jarang sekali peternak sapi di sini, kalaupun ada juga tidak memelihara banyak.

Di pasar sayur terdapat banyak buah-buahan yang sebagian besar dipasok dari luar daerah, seperti Manado. Di sini kalau beli sayur bukan menggunakan satuan per kilogram tapi tumpuk. Misalnya tomat 1 tumpuk. Unik sekali. Yang paling membahagiakan adalah ketika musim durian. It's like heaven of durian here and the whole town. 


Selanjutnya adalah pelabuhan Kaimana yang terletak di pusat kota. Biasanya orang-orang menghabiskan waktu di sekitar pelabuhan. Ada tempat bernama Jembatan Jodoh yang menghadap pelabuhan. Sebenarnya ini lebih seperti dermaga or maybe patio di samping laut ketimbang jembatan. Whatever

Seperti nama belakangnya, orang-orang percaya bisa mendapatkan teman atau bahkan jodoh di sini haha. Biasanya orang menghabiskan sore hari di sini, sambil menunggu momen matahari terbenam. Bahkan Presiden Jokowi juga pernah bersenja ria di sini saat beliau berkunjung pada tahun 2019. It's one of my favourite places in town. 

Selain itu di sepanjang jalan Trikora (yang menurutku seperti little China town-nya Kaimana) pada malam hari banyak penjual menjajakan dagangannya di sini, mulai aksesoris sampai makanan. Oh iya, ada tempat sate enak sekali di sini, di dekat kantor bank. Menurutku itu adalah sate terenak di kota! :D


 

Share:

Kaimana: Sebuah Perkenalan

Apa yang pertama kali terlintas di pikiran ketika mendengar Kaimana?


Yup. Benar sekali. Tidak tahu apa itu. 

Apakah itu kata benda? Atau nama tempat? Atau nama makanan? Atau nama aplikasi permainan?

Hahaha. 


Peta Papua Barat. Kaimana terletak di "dagu" dan "leher" dari "kepala burung" Pulau New Guinea. Sumber: www.batasnegeri.com 


Daripada bingung, let’s just get to the point. 

Kaimana adalah sebuah kabupaten yang terletak di tenggara provinsi Papua Barat, lebih tepatnya di bagian dagu burung (lihat peta). Kabupaten ini memiliki luas kurang lebih 18.500 kilometer persegi, lebih besar daripada provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Wilayahnya terdiri daerah pesisir yang berbatasan dengan pegunungan di bagian inner daratannya, serta pulau-pulau kecil sepanjang pesisir. Wilayah ini memiliki jumlah penduduk sekitar 60,000 jiwa yang menyebar mulai bagian utara sampai bagian selatan yang berbatasan dengan Mimika.


Sebagian besar perekomian ditopang dari hasil laut. Karenanya di sini sumber daya laut berperan penting dalam kehidupan sehari-hari, not to mention sebagian besar juga masyarakatnya adalah nelayan dan petani. Namun kegiatan jasa juga mulai berkembang di sini, seperti transportasi, keuangan, logistik dan akomodasi. 


Akses untuk menuju wilayah ini adalah dari laut dan udara. Dari laut bias menggunakan kapal Pelni, sedangkan akses udara ada penerbangan dari Sorong. Sekedar informasi saja Sorong adalah pintu gerbang Papua Barat. Dari Sorong, penerbangan bias dilanjutkan ke berbagai kota di Papua Barat dan Papua. Penerbangan dari sorong ditempuh dalam waktu satu jam. 



Dari penjelasan di atas sepertinya Kaimana itu terpencil dan tidak ada istimewanya sama sekali ya. 


Eits, jangan salah. Wilayah ini punya banyak sekali untuk dieksplor, dari daratan sampai lautan. Oh iya, Kaimana juga dijuluki sebagai Kota Senja. Pernah dengar lagu berjudul “Senja Di Kaimana”? Yup. Karena senja di kota kecil ini bagus sekali. 


Kalau senja pasti di mana-mana juga ada. 

Wait, nanti ada informasi tentang apa-apa saja yang unik dan worth it untuk dikunjungi di sini. Until then, enjoy the sunset photo in a small town Kaimana

Sunset view di Kampung Baru, Kaimana.

Share:

Si Pecundang dan Cinta

Iya. Sebutan apa lagi yang pantas diberikan kepada si Pecundang selain pecundang itu sendiri. Bukankah pecundang selalu menghindari apa yang seharusnya ia hadapi? Menghindari realita, menghindari tantangan, menghindari cita-cita? Ato ia bukannya menghindari, tapi berlari. Berlari secepat angin menyapu ombak di pantai. Berlari menjauhi realita, berlari menjauhi tantangan, bahkan berlari dari hal yang belum tentu terjadi. Berlari dari mimpi. Apa pun mimpi itu. Iya, ia berlari, seakan dengan itu ia bisa bebas. Tapi lihat saja apa si Pecundang akan merasakan kebebasan pada akhirnya, setidaknya, kelegaan.


Selama bertahun-tahun bernafas, banyak hal yang telah ia alami. Hasrat. Benci. Dendam. Menahan. Impian. Cita. Cinta. Semua orang memiliki hasrat dalam berbagai hal, dengan berbagai cara, tak terkecuali si Pecundang. Semua orang membenci hal-hal dengan cara mereka. Semua  orang dendam dengan hal-hal yang mereka anggap menyakitkan dan mereka menuntut keadilan. Perasaan-perasaan itu sudah inheren dan karenanya, manusiawi. Setiap orang menyikapi perasaan-perasaan itu dengan berbagai cara yang mereka bisa, tidak terkecuali si Pecundang. Ia menyikapi perasaan-perasaannya dengan caranya sendiri: berlari...menjauh...


Berkali-kali ia merasakan perasaan itu. Berkali-kali pula ia membiarkannya. Berkali-kali pula ia berlari darinya. Berkali-kali pula ia terkurung penyesalan karenanya. Cinta. Kata lima huruf yang oleh si Pecundang begitu bermakna dalam hidupnya. Ia bahagia mengenal cinta. Ia semakin bahagia ketika merasakan cinta. Ia tak berdaya menghadapi cinta. Sampai akhirnya, ia memilih berlari, menjauhi cinta.


Si Pecundang merasa kesulitan dalam mengutarakan cinta kepada orang yang ia cintai. Entah kenapa lidah menjadi kelu, seperti digodam palu, dan mulut menjadi bisu. Berkata "cinta" adalah hal tersulit. Seperti pembohong yang tak mampu berkelit. Ia membela ketidakberdayaannya dengan berkata bahwa verbalisasi cinta tidaklah sebanding dengan perasaan itu sendiri. Tapi, tidakkah ia melihat begitu berartinya perasaan itu sehingga verbalisasi menjadi sangat bermakna? Ia mencoba membela, lagi, dengan berkata bahwa justru karena itulah verbalisasi tidak sebanding, dan bersikeras dengan merasakan tanpa mengungkapkan. Ia berkata bahwa gestur lebih bermakna dari pada sekedar verbalisasi. Iya, karena ia menyangkal realita bahwa verbalisasi membuatnya terlihat konyol, karena verbalisasi membuatnya serasa terhimpit, gestur lah yang ia besar-besarkan. Tapi, apa itu cukup? Si Pecundang bilang, itu cukup.


Ia tidak memilih verbalisasi. Ia menghindari verbalisasi. Ia memilih gestur. Ia menyimpannya tanpa pernah mengutarakannya. Seperti cairan yang ia minum setiap harinya, ya, ia menyimpannya. Cairan-cairan itu membuatnya tidak kehausan, tetap hidup. Tapi, tidak tahukah ia bahwa pada satu titik cairan-cairan itu menjadi usang? Seperti besi dengan karatnya? Tidak tahukah ia bahwa cairan usang itu harus dikeluarkan pada akhirnya? Karena cairan-cairan itu malah akan meracuninya dan membuatnya tidak berdaya lagi. Namun, si Pencundang tetap menyimpannya. Ia menghindari semua itu. Namun, ia tidak bisa mengindari realita bahwa "kecukupan" yang ia banggakan berkurang dan terus berkurang. Kecukupannya menjadi ketidakcukupan. Tidak cukup.


Si Pecundang berkaca, dan melihat di depannya sesosok figur yang penuh dengan ... ketidakberdayaan. Ia menyadari bahwa ketidakcukupan mulai menghantuinya. Verbalisasi menghantuinya. Cairan-cairan itu telah meracuninya. Penolakan dengan berlari menjauhi realita yang ada berujung pada sebuah kontemplasi. Bukan itu sebenarnya alasan mendasar mengapa si Pecundang menghindari verbalisasi. Bukan karena verbalisasi tidak sebanding. Bukan gestur itu lebih bermakna dan itu sudah cukup. Bukan itu. Ia menjauhi verbalisasi karena sebenarnya, jauh di dalam dirinya, ia takut kesenangan karena cinta yang selama ini ia simpan berubah menjadi duka yang akan menghantuinya karena verbalisasi. Ia takut tersakiti. Karenanya ia menghindari verbalisasi. Ia takut ketika cairan-cairan itu tidak ada ia takkan lagi bertahan hidup. Ia takut kehilangan. Tapi, tidakkah ia tahu bahwa semakin lama ia menyimpan cairan-cairan itu, semakin ia teracuni, tak berdaya, dan mati karenanya?


Sekarang ia melihat, tidak ada kebebasan dalam dirinya. Bahkan, kelegaan terkecil pun tak tampak. Ia terjebak dalam kecukupannya. Semakin tak berdaya karena cairan usang yang sekarang meracuninya, yang disimpannya. Ia tetap berlari...menjauh...dengan kesenangan yang sekarang menyiksa... Sampai akhirnya ia mati....





Share:

Pernikahan, Kematian, Kelahiran

Sedikit cerita tentang pengalaman saya tahun lalu, ketika dalam dua hari menghadapi tiga hal yang sebenarnya sebuah awal: pernikahan, kematian, dan kelahiran. Semuanya adalah sebuah awal. Pernikahan adalah awal kehidupan baru dalam membangun keluarga dan beregenerasi. Kematian adalah awal dari proses manusia secara fisik untuk kembali ke alam. Kelahiran adalah awal dari sebuah kehidupan manusia.

Bedanya, pernikahan dan kelahiran bisa diprediksi dan ya, it is expected. Sedangkan kematian, meskipun mungkin bisa diprediksi tapi tetap saja, pikiran menolak ide itu. Parahnya kematian itu pasti. Proses menuju kematian itu loh yang seringkali menghantui.⁣

Dulu pernah mengalami momen berada di antara kematian. Ini terjadi ketika keponakan yang baru lahir harus dirawat di rumah sakit, dan setiap hari menyaksikan kematian demi kematian selama seminggu berada di sana. Dulu saya orang yang takut dengan kematian, sampai akhirnya dihadapkan dengan kematian itu sendiri, yakni keponakan. And you know what happened? Saya jadi nggak takut lagi. Otak sudah memproses bahwa itu hal yang alami, pasti, siklus semesta untuk "endure"... melepaskan yang lama digantikan dengan wajah-wajah baru.⁣

Saya benar-benar bersyukur karena bisa keluar dari “ketakutan yang sangat menakutkan” itu. I mean, selama di rumah sakit itu semacam kita harus ambil terapi alergi, sedikit demi sedikit yang pada akhirnya menjadi terbiasa. Dan itu melegakan! Thank God! ⁣

And you know what, it's such a big deal for me. Because how we embrace the concept of death has impacts on how we embrace life. Our life. And live it. ----terlepas mereka orang beragama yang percaya kehidupan setelah kematian, atau mereka yang tidak percaya. ⁣

Ya setiap orang beda-beda ngalaminnya. Ada yang sudah pernah dihadapkan dengan kematian, dan langsung make decision to do something yang dari dulu pengen dilakuin, ada yang masih skip, ada yang harus berkali-kali baru sadar. Karena like it or not ya, se-enjoy²-nya kita nikmatin hidup, pasti masih dibayangi kengerian itu. Dan nanti akan ada waktu when there's only you and death, and better you think about it, deal with it, accept it, luangkan beberapa saat untuk embrace konsep itu. ⁣

Share: