Tampilkan postingan dengan label Love story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Love story. Tampilkan semua postingan

Si Pecundang Dan Cinta



Iya. Sebutan apa lagi yang pantas diberikan kepada si Pecundang selain pecundang itu sendiri. Bukankah pecundang selalu menghindari apa yang seharusnya ia hadapi? Menghindari realita, menghindari tantangan, menghindari cita-cita? Atau ia bukannya menghindari, tapi berlari. Berlari secepat angin menyapu ombak di pantai. Berlari menjauhi realita, berlari menjauhi tantangan, bahkan berlari dari hal yang belum tentu terjadi. Berlari dari mimpi. Apa pun mimpi itu. Iya, ia berlari, seakan dengan itu ia bisa bebas. Tapi lihat saja apa si Pecundang akan merasakan kebebasan pada akhirnya, setidaknya, kelegaan.

Selama bertahun-tahun bernafas, banyak hal yang telah ia alami. Hasrat. Benci. Dendam. Menahan. Impian. Cita. Cinta. Semua orang memiliki hasrat dalam berbagai hal, dengan berbagai cara, tak terkecuali si Pecundang. Semua orang membenci hal-hal dengan cara mereka. Semua  orang dendam dengan hal-hal yang mereka anggap menyakitkan dan mereka menuntut keadilan. Perasaan-perasaan itu sudah inheren dan karenanya, manusiawi. Setiap orang menyikapi perasaan-perasaan itu dengan berbagai cara yang mereka bisa, tidak terkecuali si Pecundang. Ia menyikapi perasaan-perasaannya dengan caranya sendiri: berlari...menjauh...

Berkali-kali ia merasakan perasaan itu. Berkali-kali pula ia membiarkannya. Berkali-kali pula ia berlari darinya. Berkali-kali pula ia terkurung penyesalan karenanya. Cinta. Kata lima huruf yang oleh si Pecundang begitu bermakna dalam hidupnya. Ia bahagia mengenal cinta. Ia semakin bahagia ketika merasakan cinta. Ia tak berdaya menghadapi cinta. Sampai akhirnya, ia memilih berlari, menjauhi cinta.

Si Pecundang merasa kesulitan dalam mengutarakan cinta kepada orang yang ia cintai. Entah kenapa lidah menjadi kelu, seperti digodam palu, dan mulut menjadi bisu. Berkata "cinta" adalah hal tersulit. Seperti pembohong yang tak mampu berkelit. Ia membela ketidakberdayaannya dengan berkata bahwa verbalisasi cinta tidaklah sebanding dengan perasaan itu sendiri. Tapi, tidakkah ia melihat begitu berartinya perasaan itu sehingga verbalisasi menjadi sangat bermakna? Ia mencoba membela, lagi, dengan berkata bahwa justru karena itulah verbalisasi tidak sebanding, dan bersikeras dengan merasakan tanpa mengungkapkan. Ia berkata bahwa gestur lebih bermakna dari pada sekedar verbalisasi. Iya, karena ia menyangkal realita bahwa verbalisasi membuatnya terlihat konyol, karena verbalisasi membuatnya serasa terhimpit, gestur lah yang ia besar-besarkan. Tapi, apa itu cukup? Si Pecundang bilang, itu cukup.

Ia tidak memilih verbalisasi. Ia menghindari verbalisasi. Ia memilih gestur. Ia menyimpannya tanpa pernah mengutarakannya. Seperti cairan yang ia minum setiap harinya, ya, ia menyimpannya. Cairan-cairan itu membuatnya tidak kehausan, tetap hidup. Tapi, tidak tahukah ia bahwa pada satu titik cairan-cairan itu menjadi usang? Seperti besi dengan karatnya? Tidak tahukah ia bahwa cairan usang itu harus dikeluarkan pada akhirnya? Karena cairan-cairan itu malah akan meracuninya dan membuatnya tidak berdaya lagi. Namun, si Pencundang tetap menyimpannya. Ia menghindari semua itu. Namun, ia tidak bisa mengindari realita bahwa "kecukupan" yang ia banggakan berkurang dan terus berkurang. Kecukupannya menjadi ketidakcukupan. Tidak cukup.

Si Pecundang berkaca, dan melihat di depannya sesosok figur yang penuh dengan ... ketidakberdayaan. Ia menyadari bahwa ketidakcukupan mulai menghantuinya. Verbalisasi menghantuinya. Cairan-cairan itu telah meracuninya. Penolakan dengan berlari menjauhi realita yang ada berujung pada sebuah kontemplasi. Bukan itu sebenarnya alasan mendasar mengapa si Pecundang menghindari verbalisasi. Bukan karena verbalisasi tidak sebanding. Bukan gestur itu lebih bermakna dan itu sudah cukup. Bukan itu. Ia menjauhi verbalisasi karena sebenarnya, jauh di dalam dirinya, ia takut kesenangan karena cinta yang selama ini ia simpan berubah menjadi duka yang akan menghantuinya karena verbalisasi. Ia takut tersakiti. Karenanya ia menghindari verbalisasi. Ia takut ketika cairan-cairan itu tidak ada ia takkan lagi bertahan hidup. Ia takut kehilangan. Tapi, tidakkah ia tahu bahwa semakin lama ia menyimpan cairan-cairan itu, semakin ia teracuni, tak berdaya, dan mati karenanya?

Sekarang ia melihat, tidak ada kebebasan dalam dirinya. Bahkan, kelegaan terkecil pun tak tampak. Ia terjebak dalam kecukupannya. Semakin tak berdaya karena cairan usang yang sekarang meracuninya, yang disimpannya. Ia tetap berlari...menjauh...dengan kesenangan yang sekarang menyiksa... Sampai akhirnya ia mati....





Share:

Love Hurts In The End

Aku pernah memasukkan kalimat itu ke dalam lyrics lagu yang kutulis beberapa bulan yang lalu. Lebih tepatnya "Love pleases but then hurts in the end". Mungkin ada yang bertanya mengapa aku tiba-tiba menulis tentang itu? Well...


Cinta. C I N T A. I don't like this 5-letter word. Tapi aku bersyukur pernah mengenalnya. Sering merasakannya. Menurutku, cinta adalah buah tangan Tuhan yang paling indah yang  pernah di build-in-kan  ke dalam jiwa setiap manusia. Banyak kejadian historis yang ujung-ujungnya jika kita drag penyebabnya romansa dua insan. Kisah Troy, misalnya. Bagaimana Helene jatuh cinta kepada Paris pada pandangan pertama (terlepas intrik dan intervensi cupid ato pihak-pihak lain yang tidak diharapkan).Mereka akhirnya kabur dari Yunani, dan, terjadilah perang. Kisah segitiga Romeo-Juliet-Paris yang berujung pada tewasnya mereka bertiga. Bukan hanya tragedi, namun, perdamaian tercipta juga karena cinta. Flower Generation, misalnya. Mereka yang anti Perang Vietnam begitu berperan dalam menyebarkan perdamaian lewat musik. Sebut saja The Beatles, The Rolling Stones, Big Brother and the Holding Company. Peristiwa di tahun 1960-an itu sangat berpengaruh terhadap musik, seni, fashion, bahkan politik yang mempromosikan perdamaian dan kebebasan, karena mereka mencintai perdamaian dan kebebasan. Cinta. Masih banyak lagi kisah cinta yang berperan dalam peradaban manusia. We are raised in it.


Aku percaya tidak ada yang gratis dalam kehidupan ini. Begitu pula dengan cinta. Ketika kita jatuh cinta, banyak hal yang tidak terasa telah kita korbankan. Mulai dari hal-hal yang tak kasat mata, semisal pikiran kita dan waktu. We keep thinking of someone we're in to, don't we? Padahal, instead of  thinking of it, kita bisa saja fokus ke hal-hal lainnya yang lebih urgent, seperti kuliah, pekerjaan, hobby. Sedangkan hal yang bersifat materiil yang secara tidak sadar kita korbankan lebih banyak lagi. Mulai dari hal-hal yang paling daily, seperti pulsa (we keep texting, trying to make a call, chatting, apps-ing, stalking, tweeting, ANYTHING! Just to keep in touch with them), hadiah, uang jalan, uang bensin, banyak sekali. Bukannya bermaksud menjadi sangat perhitungan. Tidak. Ini hanya deskripsi dan...sedikit elaborasi. Harap jangan miskonklusi. See? :)


Banyak hal yang kita lakukan demi mendapatkan cinta, memilikinya, menjaganya, atau sekedar--sok tegar--melepaskannya. Nah, di sinilah ambivalensi cinta bekerja. Mulai dari awal kita jatuh cinta, kita pasti merasakan perasaan bahagia, namun tidak sedikit pula rasa khawatir beradu. Love pleases but then hurts in the end


Ketika kita melakukan verbalisasi cinta kepada, let's say, target, perasaan khawatir dan bahagia benar-benar beradu. Mungkin kebahagiaan akan tetap ada dan bahkan semakin besar ketika cinta kita berbalas. Begitu juga sebaliknya. Putus asa, hampa, terluka, mencoba bahagia--meskipun sulit--kita rasakan ketika cinta kita hanya one side. Love pleases but then hurts in the end.


Ketika kita memasuki jenjang hubungan yang lebih serius, pacaran misalnya, ambivalensi cinta tetap bekerja. Perasaan cemburu, sayang yang berlebihan, posesif adalah contohnya. Mungkin kebahagiaan itu akan berlanjut. Namun, bisa saja tidak. Putus, misalnya. Entah karena memang sudah tidak ada kecocokan lagi, atau bosan, atau selingkuh, whatever. Love pleases but then hurts in the end.


Memasuki jenjang hubungan yang jauh lebih serius lagi, pertunangan atau pernikahan, tetap saja sama. Hubungan itu bisa langgeng sampai menjadi keluarga ideal, bahagia, dengan anak-cucu dan segala tetekbengeknya. Namun, bisa saja tidak. Perceraian, perselingkuhan--yang berujung pada perpisahan--misalnya. Kalaupun--kembali lagi ke keluarga bahagia--iya, tetap saja kematian juga yang ambil alih. It's all about time.  Love pleases but then hurts in the end.


Wajar kalau kita takut kehilangan. Wajar kita ingin selalu memiliki. Tapi, kita juga harus menyadari bahwa there's a price to pay, somehow, in this life, isn't it? Kehidupan terus berlanjut seiring berjalannya waktu. Let love colour our life journey. It's not that bad. Bahkan seperti kisah Romeo-Juliet-Paris sekalipun. It's not that bad. But one for sure: deal with it. That it is: Love pleases but then hurts in the end.



with love, as usual
Rangga
  

Share:

Si Pecundang dan Cinta

Iya. Sebutan apa lagi yang pantas diberikan kepada si Pecundang selain pecundang itu sendiri. Bukankah pecundang selalu menghindari apa yang seharusnya ia hadapi? Menghindari realita, menghindari tantangan, menghindari cita-cita? Ato ia bukannya menghindari, tapi berlari. Berlari secepat angin menyapu ombak di pantai. Berlari menjauhi realita, berlari menjauhi tantangan, bahkan berlari dari hal yang belum tentu terjadi. Berlari dari mimpi. Apa pun mimpi itu. Iya, ia berlari, seakan dengan itu ia bisa bebas. Tapi lihat saja apa si Pecundang akan merasakan kebebasan pada akhirnya, setidaknya, kelegaan.


Selama bertahun-tahun bernafas, banyak hal yang telah ia alami. Hasrat. Benci. Dendam. Menahan. Impian. Cita. Cinta. Semua orang memiliki hasrat dalam berbagai hal, dengan berbagai cara, tak terkecuali si Pecundang. Semua orang membenci hal-hal dengan cara mereka. Semua  orang dendam dengan hal-hal yang mereka anggap menyakitkan dan mereka menuntut keadilan. Perasaan-perasaan itu sudah inheren dan karenanya, manusiawi. Setiap orang menyikapi perasaan-perasaan itu dengan berbagai cara yang mereka bisa, tidak terkecuali si Pecundang. Ia menyikapi perasaan-perasaannya dengan caranya sendiri: berlari...menjauh...


Berkali-kali ia merasakan perasaan itu. Berkali-kali pula ia membiarkannya. Berkali-kali pula ia berlari darinya. Berkali-kali pula ia terkurung penyesalan karenanya. Cinta. Kata lima huruf yang oleh si Pecundang begitu bermakna dalam hidupnya. Ia bahagia mengenal cinta. Ia semakin bahagia ketika merasakan cinta. Ia tak berdaya menghadapi cinta. Sampai akhirnya, ia memilih berlari, menjauhi cinta.


Si Pecundang merasa kesulitan dalam mengutarakan cinta kepada orang yang ia cintai. Entah kenapa lidah menjadi kelu, seperti digodam palu, dan mulut menjadi bisu. Berkata "cinta" adalah hal tersulit. Seperti pembohong yang tak mampu berkelit. Ia membela ketidakberdayaannya dengan berkata bahwa verbalisasi cinta tidaklah sebanding dengan perasaan itu sendiri. Tapi, tidakkah ia melihat begitu berartinya perasaan itu sehingga verbalisasi menjadi sangat bermakna? Ia mencoba membela, lagi, dengan berkata bahwa justru karena itulah verbalisasi tidak sebanding, dan bersikeras dengan merasakan tanpa mengungkapkan. Ia berkata bahwa gestur lebih bermakna dari pada sekedar verbalisasi. Iya, karena ia menyangkal realita bahwa verbalisasi membuatnya terlihat konyol, karena verbalisasi membuatnya serasa terhimpit, gestur lah yang ia besar-besarkan. Tapi, apa itu cukup? Si Pecundang bilang, itu cukup.


Ia tidak memilih verbalisasi. Ia menghindari verbalisasi. Ia memilih gestur. Ia menyimpannya tanpa pernah mengutarakannya. Seperti cairan yang ia minum setiap harinya, ya, ia menyimpannya. Cairan-cairan itu membuatnya tidak kehausan, tetap hidup. Tapi, tidak tahukah ia bahwa pada satu titik cairan-cairan itu menjadi usang? Seperti besi dengan karatnya? Tidak tahukah ia bahwa cairan usang itu harus dikeluarkan pada akhirnya? Karena cairan-cairan itu malah akan meracuninya dan membuatnya tidak berdaya lagi. Namun, si Pencundang tetap menyimpannya. Ia menghindari semua itu. Namun, ia tidak bisa mengindari realita bahwa "kecukupan" yang ia banggakan berkurang dan terus berkurang. Kecukupannya menjadi ketidakcukupan. Tidak cukup.


Si Pecundang berkaca, dan melihat di depannya sesosok figur yang penuh dengan ... ketidakberdayaan. Ia menyadari bahwa ketidakcukupan mulai menghantuinya. Verbalisasi menghantuinya. Cairan-cairan itu telah meracuninya. Penolakan dengan berlari menjauhi realita yang ada berujung pada sebuah kontemplasi. Bukan itu sebenarnya alasan mendasar mengapa si Pecundang menghindari verbalisasi. Bukan karena verbalisasi tidak sebanding. Bukan gestur itu lebih bermakna dan itu sudah cukup. Bukan itu. Ia menjauhi verbalisasi karena sebenarnya, jauh di dalam dirinya, ia takut kesenangan karena cinta yang selama ini ia simpan berubah menjadi duka yang akan menghantuinya karena verbalisasi. Ia takut tersakiti. Karenanya ia menghindari verbalisasi. Ia takut ketika cairan-cairan itu tidak ada ia takkan lagi bertahan hidup. Ia takut kehilangan. Tapi, tidakkah ia tahu bahwa semakin lama ia menyimpan cairan-cairan itu, semakin ia teracuni, tak berdaya, dan mati karenanya?


Sekarang ia melihat, tidak ada kebebasan dalam dirinya. Bahkan, kelegaan terkecil pun tak tampak. Ia terjebak dalam kecukupannya. Semakin tak berdaya karena cairan usang yang sekarang meracuninya, yang disimpannya. Ia tetap berlari...menjauh...dengan kesenangan yang sekarang menyiksa... Sampai akhirnya ia mati....





Share:

Just...Get It Over!

Get it over and move on!

That's what you should do when your relationship is over! Maybe you're crying and whining, and maybe you're fucked up like all the time. But don't let it get so long. You have to get out!

I don't recommend you to turn the huts you feel into hatred, as some people can move on after they feel the contrary of what they previously did. Some of them. But I don't want it happen to me at least. 

Do whatever that can ease off your pain. You can go out with friends, make friends and create your new atmosphere. Wipe out the haze of your ex over your new world. Or maybe you can hook up with someone you barely new. That will be relieving. As my friend once told me that basically everybody is "hungry", so get your self feed and you'll be fine. Trust me! I mean, I have no idea why it works (most times) but it does! It really works!


Share:

Oh, It's Just Love (AGAIN??!!)













Well, to be honest I'm just in love with someone which is my friend in my workplace.
I do not know why I love the person but I just can't deny this feeling.

Why am I so easy to fall for someone?
Why am I so easy to get this feeling?

I do not feel that I'm weak so that a little impression can even melt me down.
I think it's natural if we see someone, we get to know them, and there's something ii us that lead us to hope there is something between us, in the end.

Love is something we cannot control. It's the wildest thing ever that even God cannot make it tamed. I believe so. Love is a part of life that we have no power to handle, sometimes--if not most times. Love, death, and fortune are things we can't control. I do not want to blame anybody for what I've been through, I mean, in this case, love. If you ask me why, simple answer coming out is "I don't know". Like, seriously.

What I'm fear of is that how actually this kind of feeling will get the best of me in the end. And I don't wanna let it happen. I once got so much pain cause of it and I do not wanna do it, no more. I do not wanna get my self sink! Love is blind. Love is deaf. Love is anything destructive if we're drowning too deep in it and there is no way out for us to breathe. So, until when should I hold this feeling, in the meantime though I have to deal with any possibility?

Can anybody out there give me clue to get it all done? To get this "fixed"? I'm "mixed"!!!!!
Share:

Who Is Your Truly Mr. Right?

Heart beats faster, your world turns brighter, and you're getting hard (sometimes). That's when you start falling in love with someone (you believe) you can share your world with. The thing is, IS IT?

Well,
We ever fell in love, if not, often. Just like I did.
Every time I fall in love with someone I believe the person is just the best for me. I'm drowning into the deep love fantasy, hypnotized by the beauty of romance's colors, and paralyzed by the spell of misleading whispers of desire.

Love is when we're falling in love, most of us believe it is.
However, love is, also, when we're breaking up.
It pleases, and it hurts, in the end. That 's love.




In every relationship we make, we believe that he is the right man, she is meant to be with us like till the end of time. All of us are trying to make our own stories, and we lead it into the happy ending one. Sadly, sometimes, the fact doesn't say so. We have to fight for it like it is the only option and we make ourselves work so much harder on it. When it comes to an end, we're flipping upside down like on a roller-coaster, whining, crying, blaming, anything. This is the hardest part we're up against but we have to. We deny the truth, we get depressed, we get mad, then we finally see.

Is she the right person? Is he my Mr. Right? As ain't nothing's going right then sometimes.

So, love's rolling and the ending is flipping like hell with or without anybody's intention.
  
What should we do then?

Maybe some of us keep on looking for the one and only Mr. Right, deploy all the maneuvers to fight for it or, maybe, we just roll the dice instead. The latter is just the right way to do, personally, I believe. Since, there's something out of our control. It doesn't mean that I'll give upon love I should fight for. No, it doesn't. I just wanna say that I don't wanna let myself get blinded and hard to move on merely due to the faith we've made and to-self-enforcement. Just be real. That's the deal.

So, who is your Mr. Right? Do we need him actually?

:)
  


Share:

Arti Keikhlasan














Keikhlasan adalah hal paling bijak namun paling sulit untuk dilakukan.

Minggu lalu merupakan minggu yang berat sekali yang harus aku lalui. Ketika temanku mengajakku untuk pergi ke suatu tempat, tanpa berpikir panjang aku langsung mengiyakan. Tidak ada salahnya untuk sekedar meremajakan pikiran setelah depresi. Tidak ada salahnya menjauh dari tempat yang telah banyak memberikan warna dalam hidupku. Mungkin orang akan bilang bahwa aku kabur. Mungkin juga iya. Terserah.

Aku pergi ke tempat di mana jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Tempat yang bagus untuk mereka yang ingin memulihkan diri, dan hati. Aku melihat hutan pinus, melewatinya. Aku melihat pemandangan kebun sayur yang terhampar setidaknya satu mil. Ada tomat, padi, dan sayuran-sayuran lain yang tidak aku ketahui wujud hidupnya. Saat melihat itu semua, saat itulah untuk pertama kalinya aku tersenyum, sepenuh hati. Mungkin aku memang dalam pelarian. Tidak masalah, pikirku. Selama ini membantuku mengatasi masalah batin yang sedang aku alami sekarang.

Namun, ternyata senyuman itu tidak bertahan lama. Dia kembali memasuki pikiranku. Aku kembali memikirkannya. Setiap kali dia terlintas di kepalaku, ada yang bergejolak di dalam perutku. Entah itu apa. Dari awal aku berpikir mungkn dengan mengunjungi tempat-tempat baru akan membantuku melupakannya. Melupakan semua itu. Namun ternyata tidak. Dan aku mulai memaksakan diriku untuk melupakannya. Ternyata tidak berhasil. Bahkan itu hampir saja menarikku ke dalam kondisi buruk lagi. Secara emosi. Aku tidak ingin hal itu terjadi lagi. Aku tidak lagi memaksa diriku untuk melupakannya. Tidak akan. Kalau pun nanti akan berjalan lambat, butuh waktu yang tidak singkat, aku jalani. Kalau pun nantinya jarak akan membantuku melupakannya, I’ll take it.
 
Namun, masih ada sesuatu yang mengganjal dalam hatiku. Sesuatu itu adalah kenyataan bahwa kita memang tidak bisa bersama. Setiap hal itu terlintas di benakku, perlahan-lahan aku kalut. Kenyataan bahwa kita tidak bisa bersama adalah kenyataan bahwa aku tidak bisa memilikinya. Namun, aku juga bertanya-tanya tentang kinginanku untuk memilikinya. Apa benar aku ingin memilikinya?

Memiliki dan mencintai itu bukan hal yang sama. Ketika kita ingin memiliki sesuatu atau seseorang pasti kita tidak akan merelakannya pergi. Desire yang besar itu menghambat kita untuk berkorban. Ketika kita mencintai seseorang, kita akan rela melakukan apapun yang terbaik buatnya. Sedangakan kepemilikan yang nantinya kita dapatkan dari rasa sayang dan cinta, hanyalah sebuah hadiah, bonus, yang bahkan suatu saat nanti kita harus rela melepaskannya. Dan itu yang aku rasakan sekarang. Bukan keinginan untuk memiliki, namun rasa  sayang, cinta yang sedang diuji. Aku tidak ingin hari-hariku dihantui oleh hasrat untuk memilikinya, simply karena aku tidk bisa merelakannya. Whereas it violates the love of mine to the person itself. It violates the love itself. Kalau memang aku sayang sama dia, harusnya tidak ada hasrat itu. Kalau aku memang sayang sama dia, harusnya aku siap dengan segala kemungkinan terbaik dan terburuk. Aku tidak berpendapat bahwa cinta itu harus melayani. Tidak. Itu bahkan tidak bisa dibenarkan sama sekali. Ini hanyalah masalah kesiapan. Kesiapan dengan berbagai kemungkinan. Kesiapan dalam memutuskan.

I love it. And all I can do is just letting it go. Bukan karena apa-apa, namun lebih karena aku sayang dia. Dengan melepaskannya, tidak akan ada lagi pemaksaan hasrat untuk memiliki yang sebenarnya dari awal itu tidak ada. Dan aku tidak ingin hasrat itu menggantikan dan mendominasi perasaanku ke dia nantinya. Dia sudah memberikan yang terbaik—demi hubungan yang telah terjalin dan agar hubungan itu tidak semakin lebih buruk. Dia bersikap dewasa. Aku juga harus bersikap dewasa, meskipun ini jauh lebih sulit. Oleh karena itu, aku akan melepaskannya. Toh melepaskannya bukan berarti kita berakhir. Friendship masih berjalan. Bukannya itu yang aku cemaskan dari awal? Pertemanan berakhir? Bukannya itu yang dia jamin dari awal, bahwa hubungan kita berdua akan baik-baik saja? It’s more than enough, I think. Self-respect is not that easy, in this case. But I’ve gotta get it through, anyway, in anyway!

Setibanya kembali aku di kota, aku merasa lebih tenang. Aku bahkan bisa tersenyum kembali. Senyuman asli. Hal-hal yang telah aku alami memberiku banyak pelajaran penting. Keikhlasan. Menerima kenyataan dan menjalaninya. Tidak hanya di luar, namun di dalam hati. Karena saat kita telah mampu melakukannya, itu bukti rasa sayang dan cinta kita kepada orang yang kita sayangi. Lebih dari itu, itu bukti rasa sayang kita kepada diri kita sendiri. Just don’t let ourselves hurt us!


Photo source:  http://soulhiker.com/2009/10/reboot-your-life-20-mental-barriers-you-should-let-go-off/
Share: