Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Neovagina: My Opinion

Belakangan ini sedang ramai-ramainya orang membicarakan tentang neovagina. Bahkan saya sendiri masih baru dengan istilah itu. Dan pastinya juga mulai mencari tahu sebenarnya apa itu neovagina. Banyak yang mendapatkan informasi awal tentang neovagina yang bersifat negatif sehingga entah karena memang masih terbatasnya pengetahuan masyarakat jadi mereka pertama mendengar hal itu akan terkejut dan lebih terkejut lagi dengan berbagai fakta—yang sebenarnya tidak salah, namun terkesan sedikit menggeneralisir.

Neovagina adalah vagina buatan yang dilakukan melalui prosedur operasi, ini berlawanan dengan "natal vagina" yakni vagina yang memang sudah ada dari lahir. 

Neovagina menjadi perbincangan karena terkait dengan vagina buatan untuk kaum transpuan. Namun, kenyataannya adalah bahwa neovagina ini tidak hanya berlaku untuk mereka kaum trans, melainkan juga kepada beberapa kasus spesifik pada wanita dengan sindrom MRKH.

Dalam sebuah thread di Twitter yang sempat viral disebutkan beberapa hal mengenai neovagina ini seperti bahwa itu berbau, sebenarnya luka terbuka dan ketidakmampuan untuk membersihkan sendiri. Beberapa hal itu memanglah fakta, namun bukan berarti bahwa semua neovagina seperti yang disebutkan. Bahkan di jurnal yang membahas hal tersebut hanya berapa persen saja, bahkan untuk kasus-kasus tertentu setelah operasi hanya 1-2% saja yang terjadi khususnya di kalangan trans. Dan mereka juga menunjukkan tindakan apa yang diambil untuk mengatasi permasalahan tersebut. Memang, masih ada kurang ini dan itunya, namun setidaknya penelitian berlanjut untuk bertambahnya pengetahuan tentang neovagina.

Di sini saya hanya ingin menyampaikan pendapat saya sebagai masyarakat awam. Bahwasanya, setiap operasi—apapun itu—sedikit banyak memiliki risiko, mulai risiko kegagalan, risiko terjadinya infeksi setelah operasi, perlunya perawatan rutin setelah operasi. Bahwasanya, apalagi terkait dengan organ reproduksi, memang harus secara rutin dibersihkan, agar tidak menimbulkan bau. Orang yang tanpa neovagina pun, pasti juga mengalami bau apabila tubuh tidak dibersihkan. Apapun baunya. Dan mereka yang melakukan prosedur operasi neovagina pun juga secara sadar dan siap secara mental (disamping secara finansial) yang telah dijelaskan oleh dokter.

Teknologi kedokteran akan terus berkembang dan pasti akan meliputi penelitian tentang neovagina juga. Dengan semakin banyaknya penelitian, maka diharapkan meminimalisir risiko setelah dilakukan prosedur operasi. 



Referensi:
https://www.pratisandhi.com/neovaginas-heres-what-you-should-know/

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1832178/

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2695466/
Share:

My Twitter Is No Filter

I'd like to share my opinion on how I use my Twitter. Okay, he we go.

My Twitter is no filter

I've been using Twitter for more than ten years and I use it pretty much for speak-up. I can be true on it, talk everything I want, express my views, my thoughts, my feeling. Just everything. Sometimes I even curse and swear in my tweet just like many, many users do. My Twitter is no filter. No filter is my Twitter. 

I comment on many issues. Social issues mostly, from daily shits, social unrest, to things related to religion and politics either in serious manner or simply (dark) jokes. 

Then I followed accounts that frequently make giveaways. Who doesn't want things free? So I followed them, some of them. Then I dunno, their followers followed me and so did I. I won giveaways like three or four times which is actually more than lucky. I'm happy for it, but then shits started screwing up.

The guard is up

I dunno but I found that some (if not many) of my mutual friends are directed to be very supportive on one particular side. Like, they blindly support one side no matter what, and bash on those not supporting the side they do. I can be wrong as I believe people have right to speak whatever they want. And I really respect on that principle.

But then, when I scroll down the timeline I found them tweeting and talking about personal issues and like acting as a blind defenders and it's not a healthy feed for me I think. Especially when we're talking about something "hard talk". 

It's not because that I have different opinions, but more like, you know, we argue and it's based on rationality with data and proves and shits whatever. It's gonna be a dynamic yet new knowledge for us as we discuss more deeply on some issues. I am expecting that. But what I often find is that it's full of mocking, shit talking like fxckery and they did it just for defense. So they basically are reluctant to open their mind to some facts and opinion or what? 

So I realized that I didn't need such thing so, ya, I started unfollowing those accounts. Even if they still have many many giveaways with more followers but ya, I don't think it works on me. So I unfollowed manyy of them. 

My Twitter account were suspended twice

It's true. First time I got suspended for I tweeted something about Stranger Things and it's weird how some users reported my tweet. I mean, I believe at least 12,000 accounts would have been though the same shit as I did. LOL. It's over two weeks until I got my Twitter back to normal. 

Since my account was blocked, so I made another account. It's like a backup account. I speak just like whatever it is. No issue I was up against. I use my two accounts, switch-switch. 

The second time my Twitter account was suspended because I tweeted about the new criminal code issues. It's widely protested and opposed by the people. And Twitter became like a warzone. My Twitter was suspended for more that three months. And I didn't get a clear explanation why it's suspended. I mean, it's opinion. The way of thinking and I didn't spread false facts or hoax. Should be no problems but anyway, it's settled. And since it's blocked, I used backup account.

Freedom of speech is confusing

At least for now, yes, it's confusing. And it's like a trap. We have to carefully arrange the wording when we're about to tweet about something that's unpopularity standout, or when we're about to criticize on something that's just needed to be evaluated or critized. As there's a law that, in practical level, allow those with powers to deploy their "things" to "look at" us on what we're saying. It's a bit ridiculous for me personally as the debate keeps going on there on whatever the issues. If we don't agree on something, and we're dealing with those who are at the opposite, then we just deal with them, giving some arguments with evidences, rationality, concepts, whatever it is. 

But nowadays, some people use the law to curb the tongues of those who disagree with them. Isn't it a misuse of ...you know what I mean? So ya, freedom of speech is confusing, if not slowly fading nowadays. 

Anyway, those are some points I'd like to share here. I do expect that we will still have our freedom to express our thoughts without fearing on something silly happen, just because we're being true and speaking facts. 

Share:

Netizen Indonesia Serang Social Media Pasangan Gay Thailand

 Menyedihkan banget pas baca berita tentang netizen Indonesia yang menyerang akun Instagram pasangan gay Thailand dengan kata-kata hina dan bahkan kirim pesan ancaman pembunuhan hanya karena pasangan gay Thailand memposting foto pernikahan mereka yang bahkan diadakan di negara mereka sendiri. 

Jadi ada pasangan gay asal Thailand memposting foto pernikahan mereka di social media . Dari situ banjir lah komentar dari netizen Indonesia yang bilang ini dilarang agama lah, ini bikin cepat kiamat lah, dan masih banyak lagi. Ini sangat disayangkan karena sekali lagi netizen Indonesia membuktikan bahwa mereka memang netizen paling tidak sopan se-Asia Tenggara. Terlebih, merek masih belum siap dengan perbedaan. Mereka menghujat (judgemental), bullies, dan ya, homophobic. 

"Loh, tapi kan itu memang dilarang agama?"

Mungkin ada yang tetap berpendapat seperti itu. Well, gini deh. Kalau masalah dilarang agama, ngatain orang dengan perkataan kasar apalagi kirim pesan ancaman pembunuhan itu juga dilarang agama. Itu yang paling pertama yang harus di-highlight sebelum ngomongin tentang "posting foto pernihakan pasangan gay". 

Apa tindakan mereka merugikan orang Indonesia? Tidak. Kalaupun iya, tolong berikan contoh kerugian apa yang diakibatkan oleh pasangan tersebut.

Mungkin mereka yang ngata-ngatain itu juga nggak sadar kalau di social media di dalam negeri aja banyak tuh yang pamerin minum minuman beralkohol, ngomongin ngewe-ngewe sebelum nikah, yang itu juga dilarang agama (menurut mereka). Terus mereka diam aja gitu dan baru ribut atau menumpahkan kekesalan mereka ke akun Instagram yang bahkan bukan warga negara Indonesia? Yang bahkan ngadain acara pernihakan di negara mereka sendiri? 

Sebelumnya kita tidak ada masalah dengan netizen Thailand. Lebih sering mungkin dengan Malaysia when it comes to football mostly. Tapi kenapa mereka sekarang seperti suka cari keributan, apa saking tidak ada kerjaan atau kuota internet murah jadi mereka bingung gimana habisinnya? Apa mentang-mentang jumlah netizens Indonesia banyak dibandingkan negara-negara tetangga jadi merasa "eh ini loh kita, negara demokrasi, bebas berpendapat, jumlah banyak, minggir lo!" padahal jumlah banyak belum tentu bermanfaat atau membanggakan, kalau kasusnya malah kayak gini. Siap-siap aja jadi common enemy.

Akan timbul stereotype bahwa netizen Indonesia itu arogan dan tidak ramah. Mungkin itu tidak terlalu diambil pusing kalau argumen dan pengetahuan bisa mengimbangi. Tapi dalam kasus ini isinya cuma hinaan, hujatan dan ancaman. Jelas, itu adalah modal yang sangat bagus untuk bisa mendapatkan badge netizen barbar, setingkat di atas badge yang diberikan oleh Microsoft, yakni netizen paling tidak sopan se-Asia Tenggara. Karena tidak sopan saja tidak cukup.


Share:

Opini: Yang Seharusnya Pelaku Terorisme Pahami

Teror bom yang terjadi dua kali dalam kurun waktu tiga hari di Makassar dan Jakarta minggu ini benar-benar mencengangkan. Bagaimana tidak, masih ada saja yang mau-maunya mengakhiri hidup mereka dan membahayakan orang lain. Kali ini saya menuliskan beberapa poin tentang apa yang seharusnya mereka (para pelaku penyerangan) pahami, namun ternyata mereka memilih menutup mata dan berakhir sia-sia. 

Surga

Setiap orang beragama pasti ingin hidup terbaik setelah mereka meninggal. Surga menjadi tempat yang didambakan. Para pelaku penyerangan percaya bahwa mereka akan masuk surga dengan melakukan "hal yang benar" sehingga mereka "pantas" mendapatkan tiket ke surga. Tapi apa iya mereka bakal ke sana sementara mereka menciptakan neraka buat mereka sendiri dan orang lain di sini? 

Membunuh itu tidak dibenarkan. Apapun alasannya. Mengambil nyawa seseorang berarti mengambil anak dari orang tuanya, mengambil orangtua dari anaknya, seorang sahabat, atau tulang punggung keluarga. Dengan dampak yang jauh lebih besar dan kompleks ke depannya. Seorang anak kehilangan kasih sayang dari orangtuanya, keluarga kehilangan harapan kepada anaknya, sahabat kehilangan mimpi untuk diwujudkan bersama, dan masih banyak lagi dampak yang ditimbulkan dari tindakan mengambil nyawa oleh para pelaku itu. Mengambil apa yang bukan milik kita adalah salah. Apakah mereka tahu bahwa perintah Tuhan di awal-awal salah satunya adalah jangan membunuh? Jadi, apa tindakan mereka benar? Tidak.

Mendekatkan diri dengan Tuhan dan menjadi umat yang taat itu baik. Yang harus selalu diingat adalah kedekatan dengan Tuhan seharusnya tidak menjauhkan kita dengan sesama manusia. Karena Tuhan memberi aturan dan firman utamanya untuk kebaikan kehidupan manusia tanpa kecuali. Apa iya Tuhan ingin manusia mendekatkan diri dengan cara menjauhi bahkan memusuhi sesama manusia lainnya? Are you sure? 

Ketidaksetujuan atas hal-hal berikut dan menurutku ini konyol. Misalnya:

1. Tidak setuju dengan bank konvensional. Apa mereka tidak tahu kalau sekarang ada sistem perbankan syariah yang bisa jadi opsi?

2. Sistem pemerintahan. Ini sangat luas dan kompleks karena menyangkut banyak aspek kehidupan. Okay, misal tidak setuju, mungkin bisa pergi ke luar di mana bisa bebas dengan segala aturan asing dan mereka bisa menerapkan aturan mereka sendiri dan menjaga kemurniannya. Bahkan kalaupun mereka akhirnya bisa tinggal di tempat itu mereka harus menemukan teknologi mereka sendiri untuk endure, karena konsep, ide, nilai dan produk yang ada sekarang ini tidaklah seoeriy yang mereka idealkan. Bahkan ketika mereka membaca tulisan ini apakah mereka sadar bahwa smartphone dan koneksi internet yang mereka gunakan tidaklah murni seperti yang mereka idealkan? You know what, sangat teknis berbicara hal-hal seperti ini dan maaf-maaf saja, sepertinya beberapa orang tidur terlalu lama. 

Memang dunia ini mengarah ke ketidakaturan. Sama halnya dengan tubuh manusia yang menuju ketidakaturan, menjadi tua dan berakhir dengan kematian. Planet dan galaksi bergerak menjauh dan tidak ada yang bisa kita lakukan untuk sekedar menghambatnya. Tapi membunuh, serangan dan aksi teror lainnya membuat dunai ini lebih buruk. Bagaimana bisa Anda mengharapkan sesuatu lebih baik sementara anda ssndiri membuatnya semakin buruk? 

Share:

What Terrorists Should Understand

It's, again, shocking to know there were terrorist attacks that happened within three days this week in Makassar and Jakarta. Thank God there're no fatalities except for the attackers themselves, which were, still, sad to know they ended their life for nothing. Concerning the issue, I have some points to say about what terrorists should very much understand and I'm trying not to drag it to political, racial, religion matters, but more into humanity in general, as it is universal.

Craving for Heaven

Nobody doesn't really want to go to hell even though for some people it won't matter, simply as they don't believe in such thing. It's a matter of beliefs anyway, but picturing "hell" is not always a good idea for most of us whatever it is. The doers of the bomb attacks believed that they're gonna go to heaven because they've done "the right things" and "justifiable" that make them "eligible" for the tickets. 

Here's the thing. Every house has its own rules. You can do this, but this one just don't. If you do this, if you avoid this, you'll go to heaven. But how can you go to heaven but in the meantime you create hell for you and people around you? That's the attackers should've very much understood before taking decision to commit to any terror attack. 

Is killing a right thing? Definitely not no matter what. Taking somebody's life means taking a son or a daughter from their parents. Taking somebody's life means taking parents from their children. Taking someone away so nobody can support the house. Or taking one who's become the only reason for someone not to give up. And when they're taken away from their families or friends, means that some part of their lives are also taken away. And it's not justifiable for anybody to take what's not theirs. Did they even know the first messages from Him included do not kill? 

At this point, are they still eligible for heaven?

Relationship with God and people

Becoming a faithful or religious person cannot be taken as bad. Practicing what the religions teach you is a good thing. By doing so maybe it will take you to a closer and intimate relationship with God. But what people need to always remember is that having a good relation between people is manifested from their good relation with God. No matter how close someone feels about their relation with God goes to redundancy as long as they have no good intentions to the other people. Does God really want you to get close to Him by asking you to make the other people your enemy?

Disagreements on things and that really sound ridiculous, and here they are:

  1. Disagreement on conventional banking and it's sinful. Do they know that there is now Sharia-based banking system with its banks available that they can use? They can choose which one suits them most. 
  1. Disagreement on government, which eventually lead us to talk about people relation and the complexity of life aspects interrelated nowadays. If they don't want to live under the regulation of a country, they can move somewhere foreign and remote where nobody's gonna reach them, and no products or values they will infuse and threaten their ideal of purity. Since there is no, nothing, pure nowadays. Okay, let's say, should they make it, living in their own place with their ideals, still human relation is inevitable. Otherwise they have to use to find any other way as current technologies and products even concepts and ideas are not 100 percent based on their purity ideal.

The world evolves and bad things happen, either due to force majeure or human-designed. Killing, attacks, any other form of terror just make it worse. How can you expect something better when you're making things worse? At least for yourself first. 


Share:

Online Identity And Why It Matters

When it comes to online, it's limitless. And timeless. And endless.

Everything goes online. How we have to mess up with this and in the end we need to mess up with this in every single day is the main thing I want to break down here. So, what has happened actually?

It's about the shifting of people's mindset when they found themselves in a very broad open area called online world. How it promises them so much things, more than they ever could expect. And how, most importantly, it fills up the hollowness of their real world they cannot fulfill. 

Online identity is an image construction of oneself. Anything posted by someone on their social media (Facebook, Twitter, Instagram, Blog, LinkedIn, Pinterest, etc) and forums that users want to depict their image as they want. Internet users come up with identities that are same to their real world ones, though many of them may come with different version of them online. 

Some users are just fine to use their real identity in online forums or communities, some are considering "alternative person" or wearing "masks". People are fine using their real identity maybe because socially they are neutral or acceptable. Sorry to say but, for those looking freak and weird and anti-social (frankly: hardly socially-acceptable appearances and personalities), the online world helps them much. As the place they can escape to (or hide from), as the (real) world they can make up, and for their existence, pride whatsoever that it can add them up to.

When a person is not (really) accepted by the people (society), they're gonna feel like they're less worthy, sometimes. The way society look down on them is something that they know they should not worry about but then it influences the others to do the same. And it's inevitably impacts the person, bad way. What should be done then? Some people just don't care of it. Others take it too personal. Either you care or not, as long as you keep silent, nothing's gonna change. 

So do you need to speak up? Yes.

Directly? In-person? Not necessarily.

In a society that's pretty conservative, it's uneasy sometimes to speak about ideas and perspectives. When it's simply contradictive to them, or (perceived as) radical, they'll simply say no and reject, and provide no space for arguments. So thank to today's technology where someone can use masking identity. A no-real name, character, or personality that someone can be totally in. In social media such as Facebook and Twitter we can find many alter accounts.

What "social"? Which "society" is it then?

Because people will always talk. No matter what medium is. So basically, the online constructed society is just the same as in the real world. People see, comment, and give their judgements on things, like it or not. 

If it's the same thing then why masking identity is there?

Because it doesn't reveal someone's real identity. And that's important.  They need not worry about what people say yet they can speak up and express themselves in ways they want. The online world provides spaces for sharing ideas and arguments. If people don't like it, they just can skip, but if they're open to talk then the conversation can be held without fear and worrying about social consequences. Then the exchange happens, with hope for better understanding. And it can hardly found in real world. It's like a safety net.

But, does it seem like they have lack of self-esteem by doing so? The answer is when can the society be conducive to an interaction with confidence between people and no fear for social judgements? 

I believe online identity is a big deal. The internet is the only place where someone can be whatever they want to be. Moreover, it offers them to be any alternative personality that later lead to other perspectives of how people see things in life.




Share:

Pilkada Dan Politik Uang Di Masyarakat

Desember ini sebagian wilayah di Indonesia akan melaksanakan pemilihan umum kepala daerah serentak, lebih tepatnya pada 9 Desember 2020. Total 270 daerah mencakup sembilan provinsi, 37 kota dan 224 kabupaten. Di sini tidak akan membahas tentang urgensi pilkada di tengah pandemic Covid-18, atau bagaimana mekanisme pelaksanaan dan dampak dari agenda besar tahun 2020 ini terhadap penyebaran coronavirus. Karena memang pilkada ini telah diputuskan untuk tetap dilaksanakan dan pastinya penyelenggara sudah mempunyai kapasitas dan fasilitas untuk menjalankannya sesuai dengan prosedur baru yang telah disesuaikan di masa pandemic ini.

Di sini hanya akan melihat kembali tentang hal yang selama ini terjadi menjelang pilkada dan mungkin satu atau dua orang di masyarakat menyadari adanya hal itu, yakni politik uang. Beberapa mungkin masih belum tahu tentang politik uang, meskipun sebagian lainnya justru menganggap lumrah. Politik uang adalah bentuk pemberian uang / barang / janji menyuap seseorang baik supaya orang itu tidak menjalankan haknya untuk memilih maupun supaya ia menjalankan haknya dengan cara tertentu pada saat pemilihan umum. Umumnya sebelum pemilu dilakukan, banyak yang kebagian amplop atau sembako di masyarakat untuk menarik simpati agar mereka memberikan suara ke kandidat tertentu. 

Selama ini tetap berlangsung, tidak akan ada asas-asas pemilu yang diterapkan sepenuhnya dalam setiap pilkada. Asas merupakan dasar / fondasi dari pemilu itu sendiri. Asas pemilu dikenal dengan istilah Luber Jurdil: Langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, adil. 

Ketika pemilu harus bebas, para pemilih akan memberikan suaranya secara bebas berdasarkan pilihan / keputusan mereka sendiri. Terserah mereka mau memilih siapa atau tidak memilih siapa-siapa, karena keputusan berasal dari pertimbangan-pertimbangan dan hati nurani pemilih, tanpa dipengaruhi oleh intimidasi atau intervensi dari luar / pihak lain. Namun, beberapa ditemukan kasus bahwa keputusan masyarakat dalam pemilu sedikit banyak dipengaruhi oleh apa yang mereka dapatkan sebelum pelaksanaan. Kemungkinan besar mereka akan memilih kandidat yang dianggap membantu mereka (secara nyata), seperti pemberian uang atau sembako. Dan dari sana akan timbul persepsi bahwa kandidat tertentu lebih layak dipilih hanya karena beberapa lembar rupiah. Dan ketika ada yang mempertanyakan tentang pemilu yang tidak bebas, akan ada pertanyaan lainnya yakni apakah masyarakat merasa dengan adanya “bantuan” tersebut kebebasan mereka terganggu?

Dengan adanya politik uang, tidak ada lagi kebebasan dalam menentukan pilihan. Memang memilih tidak semata-mata berdasarkan visi misi atau kesamaan prinsip, tapi kalau uang dan barang menjadi pertimbangan, itu akan outshine dari hal-hal principle yang sebenarnya lebih penting dan berdampak panjang. Tidak perlu visi misi dan program bagus, karena selama punya banyak uang maka suara bisa diraih.

Politik uang menodai asas jujur dalam pemilu, like it or not. Namun, apakah masyarakat akan mau bersikap jujur dengan menolak politik uang? Selama mereka masih mengiyakan, dan merasa tidak ada masalah dengan kebebasan dalam memilih, praktik ini akan terus ada. Dan agenda akbar lima tahunan yang mengundang banyak candidacy, melahirkan banyak visi misi yang sangat bagus terdengar (entah itu hanya gimmick atau memang serius), akan tetap terbalut dengan rupiah demi singgasana selama lima tahun nanti. Masyarakat terwakili, masyarakat terakomodasi? Itu urusan nanti. 

Jadi, apakah ada yang menerima uang?




Share:

Ramadan: Bulan Ketika Aku Meragukan-Nya


Sebagai salah satu dari setidaknya 200 juta orang Indonesia yang secara administratif beragama Islam, pastinya Ramadan adalah salah satu hal yang yang paling kunantikan setiap tahunnya. Mulai serunya bangun jam 3 pagi untuk sahur, ngabuburit, melimpahnya menu berbuka, bagaimana menjadi religious itu begitu menyenangkan meskipun euphoria itu hanya bertahan tidak lebih dari seminggu saja ketika segalanya akhirnya terlihat hanya sebatas festival kuliner sebulan dan diskon besar-besaran, sama seperti festive season lainnya. Namun yang tidak habis pikir buatku adalah bagaimana sesuatu yang diluar dugaan bisa terjadi,  terutama karena ini menyangkut hubunganku dengan Tuhan, saat Ramadan pula.

Siang itu sama seperti hari-hari biasa—panas, berdebu—ditambah harus menahan lapar dan dahaga. Aku tiduran sambil nonton TV. Killing time lah. Banyak sekali iklan sirup dan biscuit sepanjang Ramadan, yang menurutku “Ramadan Banget!”  Gak afdol dunia pertelevisian kalau belum ada iklan-iklan itu, ditambah sinetron-sinetron yang “mendadak Syariah” dan beberapa kisah orang-orang yang menjadi muslim yang—entah bagaimana caranya—terlihat sangat meyakinkan, seperti pernyataan brand ambassador iklan”ini adalah shampoo yang akan kugunakan selamanya karena menjawab semua kebutuhan rambutku”. Sampai suatu ketika aku melihat iklan obat kumur edisi Ramadan.

“Siapa bilang setan dibelenggu saat Ramadan?” suara mas-mas terdengar bersama dengan ilustrasi kuman berbentuk setan yang menginvasi mulut, dan berakhir dengan tampilan merk produk itu sendiri.

Mungkin itu terlihat sepele dan sebatas strategi marketing yang—jujur saja—okay. Tapi, ternyata hati dan pikiranku menuntunku jauh ke dalam, apa sebenarnya maksud dari iklan itu.

Menurutku, segala sesuatu yang kita lakukan adalah tanggungjawab kita sendiri, atas dasar kesadaran manusia untuk mencerna, membuat konsiderasi, keputusan dan tindakan. Paham pahala-surga dan dosa-neraka yang diajarkan kepadaku selama ini sangat mengundang sekaligus intimidatif. Dan aku sangat menyayangkan bagaimana sampai dengan sekarang belajar agama hanya sebatas belajar alif-ba-ta dan doktrin-doktrin yang “tidak bisa ditembus” dengan pertanyaan-pertanyaan awam sebagai manusia bebas.  

Ketika tindakan dan akibat yang ditimbulkan adalah manifestasi dari dalam diri manusia, hal itu bisa juga berlaku dengan paham-paham tentang dunia setelah mati (after life). Bagaimana akhirat adalah gambaran akan harapan manusia, karena pada dasarnya manusia ingin terus hidup dan sempurna dan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Dan bahkan dengan begitupun manusia masih tidak akan puas. People can’t get enough. Dan ketika mereka bertemu dengan kematian, gambaran selanjutnya adalah kehidupan itu sendiri, karena kehidupan adalah satu-satunya yang ada dalam diri, dan (manusia)  tidak siap dengan ketiadaan.

Di situ aku mulai less attached dengan apa yang telah diajarkan selama ini. Tentang harapan surga dari kebaikan yang kita lakukan, atau bayangan siksaan karena keburukan, itu pun masih seputar after life…another life we dream on.

Aku sadar bahwa salah satu esensi dari puasa adalah “menahan”.  Tidak seperti yang sekarang terjadi, puasa hanya sebatas menahan lapar dan haus selama 14 jam, dan pada 3 jam terakhir kita disibukkan dengan berbelanja menu-menu untuk berbuka yang bisa di luar ukuran sehari-hari ketika tidak sedang berpuasa. Dari situ saja sebenarnya kita tidak bisa—menahan  untuk menuruti keinginan gastronomis. Percaya atau tidak, bahwa banyak sekali hal-hal yang sebenarnya tidak begitu penting tapi bisa kita anggap penting hanya karena ini Ramadan. Yang paling gampang adalah membeli baju –dan pelaku bisnis sangat memahami ini, sialan!—dan barang-barang lainnya akan menjadi justifiable karena Ramadan dijadikan excuse. Ini menjadi 30 hari yang penuh dengan supply-(enforced) demand.

Memang tidak semuanya, karena beberapa memaknai Ramadan sebagai kontemplasi dan introspeksi. Memulai kebaikan dari diri sendiri, secara sadar dan ikhlas. Bahwa kebaikan itu dilakukan agar mendapat reward dari Tuhan. Namun, aku juga menyadari bahwa sebenarnya kebaikan dan keburukan itu pasti adanya meskipun tanpa atribut-atribut religi. Bahwa “memberi pertolongan akan meringankan mereka yang membutuhkan” akan tetap begitu adanya meskipun itu tidak dilakukan atas nama / demi / untuk agama, Tuhan, atau dilakukan dengan tulus atau terpaksa. Dari sini aku mulai meragukan Tuhan.

Mungkin terdengar aneh bagi sebagian orang ketika aku baru yakin akan takdir setelah sekilas mendengarkan percakapan di serial “Prison Break”. Ada beberapa hal yang memang di luar kuasa kita, seperti halnya di film “About Time”, wajar manusia akan terus mencari dan tidak akan pernah puas.

Sama halnya seperti alur semesta yang menuju ke kenegativan, aku pun percaya akan hal itu. Karena itulah manusia menua dan membusuk, alam semesta semakin menjauh seiring menurunnya gravitasi, dan keseimbangan akan goyah.  Aku percaya adanya kehancuran galaxy, tempat peradaban manusia mengukir cerita demi cerita. Ketika semesta menuju kehancuran, dan kehidupan menghilang, aku bertemu dengan kekosongan dan ketiadaan.

Dan apa yang ada dalam ketiadaan itu?

Mungkin di situlah aku akan melihat Tuhan. Karena manusia tidak bisa dengan ketiadaan dan kekosongan, atau aku akan membiarkan ketiadaan dan kekosongan begitu saja.




Share:

Coming Out Of The Closet?

Judul di atas mungkin sedikit asing di telinga sebagian besar orang, atau mungkin tidak. Okay, sebaiknya kita tahu dulu apa sih coming out of the closet itu? 

Coming out of the closet (kalau diterjemahkan literal ke bahasa Indonesia berarti "keluar dari lemari") adalah sebuah kiasan yang merujuk kepada keterbukaan seorang Lesbian, Gay, Biseksual, atau Transgender (disingkat LGBT) tentang orientasi seksual mereka or their gender identity. Mungkin beberapa dari kita pernah mengalami ketika teman kita tiba-tiba mengaku dirinya seorang gay atau lesbian. Nah, yang dilakukan teman kita itu namanya coming out of the closet. 

Pembukaan jati diri apakah seseorang itu adalah gay atau bukan memang masih menjadi hal yang "luar biasa sekali" bagi orang lain untuk sekedar mengetahuinya. Oleh karenanya, coming out of the closet juga sangat bergantung pada pelaku itu sendiri, mudah tidaknya dilakukan. Ketika seseorang memutuskan untuk membuka jati diri atau tidak (diam-diam saja), mereka pasti sudah mengetahui costs and benefits dari tindakan mereka itu. Hal itu penting! Kebanyakan orang tidak membuka diri karena faktor sosial. Bagaimana lingkungan masih saja menerapkan nilai, norma atau aturan yang menolak LGBT. Bahwa ketika seseorang bertindak "di luar batas", masyarakat dengan mudahnya menghakimi bahwa ini tidak patut, melanggar etika, tidak sopan, tidak mencerminkan budaya timur, dan "tidak baik-tidak baik menurut mereka" lainnya. Sama halnya dengan kasus coming out of the closet, seseorang pasti tidak ingin mengambil risiko yang besar (yang mengancam kelangsungan hidupnya) hanya karena pembukaan jati diri. Mereka menyadari bahwa masyarakat akan membenci, bahkan mengalienasi ketika mereka tahu. Inacceptance and intolerance! 

Ini seperti kehamilan di luar nikah, ketika masyarakat menjunjung tinggi nilai keperawanan dan mereka bersikap berbeda ketika ada seorang gadis—tahu-tahu—punya anak dengan meninggalkan pertanyaan "bapaknya siapa?" kepada khalayak umum. Tapi, bukankah seiring berjalannya waktu masyarakat sudah sedikit lebih lunak menyikapi kasus seperti itu? Mungkin karena mereka kasihan sama anaknya, atau mungkin mereka kasihan sama ibunya yang telah dihamili (meskipun sebelumnya mereka membuat sang ibu jadi bulan-bulanan nyinyiran mereka sendiri seperti "cewek kok seperti itu?!" dan yang lainnya), atau alasan lain.  Bahkan, jangan jauh-jauh, ketika kita ke salon kecantikan pasti juga akan menghadapi hal-hal semacam itu, seperti adanya "mbak-mbak salon". Dan masyarakat sudah terbiasa dengan hal itu. Bahwa ada space of tolerance di situ. Alasan-alasan dan perubahan itulah yang sampai sekarang tidak terjadi (atau setidaknya sulit sekali terjadi) regarding to homosexuality. That's why banyak orang lebih memilih tutup mulut.

Lingkungan berperan penting apakah seseorang akan come out of the closet atau tidak. Ketika lingkungan tidak mendukung seperti di atas, mereka yakin bahwa bunuh diri sosial tidak termasuk dalam opsi. Tapi, bahkan ketika lingkungan mendukung pun, membuka jati diri tidak semudah membalik telapak tangan. Kalau pun lingkungan menerima—katakanlah di kalangan mahasiswa yang liberal (meskipun kadang bercandanya sedikit rasis), universalis, feminis—mereka  tidak serta merta akan melakukannya. Dari lingkungan tersebut, acceptance bisa dipastikan ada, toleransi iya. Tapi terlepas dari itu, ada pertimbangan-pertimbangan yang sangat personal. Mungkin mereka tidak siap menghadapi image shifting dari teman-teman mereka. Somehow, hal itu memang berperan signifikan. Tapi sebenarnya, lingkungan seperti itu—yang biasanya ada di kampus-kampus dan di kawasan urban atau let's say dunia maya (sosial media, misalnya)--adalah awal yang baik untuk lebih terbuka tentang jati diri kepada orang lain. Akan ada proses yang tidak sebentar agar lingkungan bisa terbiasa dengan keberadaan kaum LGBT. Dan pada akhirnya, tidak ada lagi paranoia terhadap LGBT, yang berarti bahwa proteksi dengan sendirinya berjalan. Penerimaan dan toleransi lah yang menjadi proteksi itu sendiri.

Terlepas dari apakah coming out itu dilakukan atau tidak, motifnya sebenarnya sama: self protection. tapi, bukankah aktualisasi diri dan keterbukaan itu juga perlu? Lebih baik juga kan ketika kita bahagia bukan karena apa yang orang lain pikirkan tentang kita :)


Share:

Arti Keikhlasan














Keikhlasan adalah hal paling bijak namun paling sulit untuk dilakukan.

Minggu lalu merupakan minggu yang berat sekali yang harus aku lalui. Ketika temanku mengajakku untuk pergi ke suatu tempat, tanpa berpikir panjang aku langsung mengiyakan. Tidak ada salahnya untuk sekedar meremajakan pikiran setelah depresi. Tidak ada salahnya menjauh dari tempat yang telah banyak memberikan warna dalam hidupku. Mungkin orang akan bilang bahwa aku kabur. Mungkin juga iya. Terserah.

Aku pergi ke tempat di mana jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Tempat yang bagus untuk mereka yang ingin memulihkan diri, dan hati. Aku melihat hutan pinus, melewatinya. Aku melihat pemandangan kebun sayur yang terhampar setidaknya satu mil. Ada tomat, padi, dan sayuran-sayuran lain yang tidak aku ketahui wujud hidupnya. Saat melihat itu semua, saat itulah untuk pertama kalinya aku tersenyum, sepenuh hati. Mungkin aku memang dalam pelarian. Tidak masalah, pikirku. Selama ini membantuku mengatasi masalah batin yang sedang aku alami sekarang.

Namun, ternyata senyuman itu tidak bertahan lama. Dia kembali memasuki pikiranku. Aku kembali memikirkannya. Setiap kali dia terlintas di kepalaku, ada yang bergejolak di dalam perutku. Entah itu apa. Dari awal aku berpikir mungkn dengan mengunjungi tempat-tempat baru akan membantuku melupakannya. Melupakan semua itu. Namun ternyata tidak. Dan aku mulai memaksakan diriku untuk melupakannya. Ternyata tidak berhasil. Bahkan itu hampir saja menarikku ke dalam kondisi buruk lagi. Secara emosi. Aku tidak ingin hal itu terjadi lagi. Aku tidak lagi memaksa diriku untuk melupakannya. Tidak akan. Kalau pun nanti akan berjalan lambat, butuh waktu yang tidak singkat, aku jalani. Kalau pun nantinya jarak akan membantuku melupakannya, I’ll take it.
 
Namun, masih ada sesuatu yang mengganjal dalam hatiku. Sesuatu itu adalah kenyataan bahwa kita memang tidak bisa bersama. Setiap hal itu terlintas di benakku, perlahan-lahan aku kalut. Kenyataan bahwa kita tidak bisa bersama adalah kenyataan bahwa aku tidak bisa memilikinya. Namun, aku juga bertanya-tanya tentang kinginanku untuk memilikinya. Apa benar aku ingin memilikinya?

Memiliki dan mencintai itu bukan hal yang sama. Ketika kita ingin memiliki sesuatu atau seseorang pasti kita tidak akan merelakannya pergi. Desire yang besar itu menghambat kita untuk berkorban. Ketika kita mencintai seseorang, kita akan rela melakukan apapun yang terbaik buatnya. Sedangakan kepemilikan yang nantinya kita dapatkan dari rasa sayang dan cinta, hanyalah sebuah hadiah, bonus, yang bahkan suatu saat nanti kita harus rela melepaskannya. Dan itu yang aku rasakan sekarang. Bukan keinginan untuk memiliki, namun rasa  sayang, cinta yang sedang diuji. Aku tidak ingin hari-hariku dihantui oleh hasrat untuk memilikinya, simply karena aku tidk bisa merelakannya. Whereas it violates the love of mine to the person itself. It violates the love itself. Kalau memang aku sayang sama dia, harusnya tidak ada hasrat itu. Kalau aku memang sayang sama dia, harusnya aku siap dengan segala kemungkinan terbaik dan terburuk. Aku tidak berpendapat bahwa cinta itu harus melayani. Tidak. Itu bahkan tidak bisa dibenarkan sama sekali. Ini hanyalah masalah kesiapan. Kesiapan dengan berbagai kemungkinan. Kesiapan dalam memutuskan.

I love it. And all I can do is just letting it go. Bukan karena apa-apa, namun lebih karena aku sayang dia. Dengan melepaskannya, tidak akan ada lagi pemaksaan hasrat untuk memiliki yang sebenarnya dari awal itu tidak ada. Dan aku tidak ingin hasrat itu menggantikan dan mendominasi perasaanku ke dia nantinya. Dia sudah memberikan yang terbaik—demi hubungan yang telah terjalin dan agar hubungan itu tidak semakin lebih buruk. Dia bersikap dewasa. Aku juga harus bersikap dewasa, meskipun ini jauh lebih sulit. Oleh karena itu, aku akan melepaskannya. Toh melepaskannya bukan berarti kita berakhir. Friendship masih berjalan. Bukannya itu yang aku cemaskan dari awal? Pertemanan berakhir? Bukannya itu yang dia jamin dari awal, bahwa hubungan kita berdua akan baik-baik saja? It’s more than enough, I think. Self-respect is not that easy, in this case. But I’ve gotta get it through, anyway, in anyway!

Setibanya kembali aku di kota, aku merasa lebih tenang. Aku bahkan bisa tersenyum kembali. Senyuman asli. Hal-hal yang telah aku alami memberiku banyak pelajaran penting. Keikhlasan. Menerima kenyataan dan menjalaninya. Tidak hanya di luar, namun di dalam hati. Karena saat kita telah mampu melakukannya, itu bukti rasa sayang dan cinta kita kepada orang yang kita sayangi. Lebih dari itu, itu bukti rasa sayang kita kepada diri kita sendiri. Just don’t let ourselves hurt us!


Photo source:  http://soulhiker.com/2009/10/reboot-your-life-20-mental-barriers-you-should-let-go-off/
Share: